PENGUATAN EKOSISTEM INOVASI DAN KOLABORASI NASIONAL UNTUK MEMBANGUN PENDIDIKAN TINGGI BERDAYA SAING GLOBAL

Editor: Admin

Catatan Singkat pada acara Opening Konfrensi Puncak Pendidikan Tinggi (KPPT) 2025

Foto istimewa 

Oleh :

 A. Andi Usman

Konferensi Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPT) 2025 merupakan momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan tinggi untuk merefleksikan kembali arah pengembangan pendidikan nasional dalam menghadapi tantangan global. Diselenggarakan pada tanggal 19–21 November 2025 di Graha Universitas Negeri Surabaya, kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga layanan pendidikan, sektor industri, serta mitra internasional dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inovatif, inklusif, dan kompetitif.

Dalam perkembangan nasional, pendidikan tinggi memegang posisi sebagai pusat pembentukan sumber daya manusia unggul sekaligus motor penggerak inovasi nasional. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cakap, tetapi juga mampu melahirkan karya ilmiah, teknologi, dan inovasi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, konferensi ini dihadirkan sebagai ruang dialog untuk memperkuat kolaborasi antarsektor dalam rangka memperkuat kapasitas institusi pendidikan tinggi menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Kehadiran Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi beserta wakilnya, pimpinan Ditjen Pendidikan Tinggi KemendiktiSaintek, para rektor dari perguruan tinggi negeri dan swasta, perguruan tinggi kedinasan, hingga delegasi perguruan tinggi luar negeri mempertegas posisi konferensi sebagai forum tingkat nasional. Partisipasi para pemangku kepentingan kunci ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tinggi bukan hanya agenda internal perguruan tinggi, tetapi bagian dari strategi negara dalam mempersiapkan pilar pembangunan menuju Indonesia yang berdaya saing.

Dalam pemaparannya, Dirjen Pendidikan Tinggi KemendiktiSaintek, Bapak Khairul Munadi, menyampaikan gambaran mengenai tantangan multidimensional yang dihadapi pendidikan tinggi saat ini. Tantangan tersebut meliputi kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran, kesenjangan akses pendidikan di berbagai wilayah, tuntutan percepatan digitalisasi dalam proses akademik, keterbatasan hilirisasi riset, serta meningkatnya kebutuhan dunia industri terhadap lulusan yang siap pakai dan adaptif. Situasi ini menuntut lahirnya kebijakan yang lebih progresif serta kolaborasi lintas lembaga agar pendidikan tinggi mampu beradaptasi secara cepat dan terarah.

Sementara itu, dalam pidato kuncinya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Bapak Brian Yuliarto, menekankan bahwa percepatan transformasi pendidikan tinggi harus diarahkan pada penguatan ekosistem inovasi nasional. Ia menyebut bahwa kerja sama antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi harus diperdalam untuk memperkuat kurikulum berbasis kebutuhan masa depan, pembangunan infrastruktur digital yang lebih kuat, dan sistem tata kelola yang transparan serta berkelanjutan. Ia juga menyoroti pentingnya memfokuskan riset dan inovasi pada pemecahan masalah nyata agar perguruan tinggi dapat menjadi pusat solusi dan penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.

Isu mengenai pendanaan pendidikan tinggi juga menjadi perhatian dalam konferensi ini. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Bapak Lalu Hadrian Irfani, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa keberhasilan program pendidikan tinggi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan kualitas pembiayaan. Ia menyoroti perlunya mekanisme pendanaan berbasis kinerja (output dan outcome), sehingga anggaran yang dialokasikan dapat memberikan dampak nyata terhadap mutu pendidikan dan inovasi nasional. DPR, dalam hal ini, menyatakan komitmennya untuk memperkuat dukungan anggaran demi pengembangan pendidikan tinggi yang lebih progresif.

Konferensi juga menghadirkan tokoh penting nasional seperti Bapak Prof. Muhammad Nuh dan Prof. I. Gede Wenten dalam sesi pleno. Dalam kesempatan tersebut Prof. Muhammad Nuh memaparkan tentang Kepemimpinan transformasional untuk tata Kelola kampus berdampak yang adaptif dan berdaya saing global. Sementara Prof. I. Gede Wenten menyoroti urgensi peningkatan kapasitas riset dan hilirisasi sebagai kunci penguatan daya saing bangsa. Perguruan tinggi didorong tidak hanya berfokus pada publikasi ilmiah, tetapi juga memastikan bahwa penelitian mampu menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, pemerintah daerah, maupun dunia industri. Pandangan ini sejalan dengan tuntutan global agar perguruan tinggi bergerak dari sekadar pusat pengetahuan menjadi aktor strategis dalam pembangunan nasional.

Selain sesi ilmiah dan kebijakan, konferensi ini juga diwarnai dengan penyelenggaraan University Expo. Expo ini menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk menampilkan inovasi, produk penelitian, program unggulan, serta potensi kerja sama baik dalam maupun luar negeri. Kegiatan ini tidak hanya memperlihatkan capaian masing-masing perguruan tinggi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antar kampus dalam meningkatkan kualitas akademik dan tata kelola.

Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah peluncuran Metrik Kampus Berdampak, sebuah instrumen evaluasi baru yang mengukur kontribusi nyata perguruan tinggi bagi pembangunan nasional. Metrik ini merupakan terobosan untuk mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya mengejar output akademik, tetapi juga mengutamakan dampak sosial, ekonomi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran metrik ini menandai pergeseran orientasi evaluasi pendidikan tinggi menuju pendekatan yang lebih berpusat pada hasil dan manfaat bagi masyarakat.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan Konferensi Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPT) 2025 menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi berbasis inovasi dan kolaborasi nasional. Kegiatan ini berfungsi sebagai ruang konsolidasi, penajaman arah kebijakan, serta pembentukan komitmen bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan fokus pada penguatan ekosistem inovasi, diharapkan pendidikan tinggi Indonesia dapat bertransformasi menjadi institusi yang lebih adaptif, berdaya saing global, dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa

Share:
Komentar

Berita Terkini