![]() |
| Foto istimewa |
JAKARTA – Di tengah gegap gempita Piala Dunia FIFA 2026, ada cerita yang layak menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Meski Timnas Indonesia belum tampil di putaran final, darah Nusantara tetap hadir di panggung sepak bola terbesar dunia melalui dua pemain keturunan Indonesia yang memperkuat negaranya masing-masing, yakni Tijjani Reijnders bersama Belanda dan Godfried Roemeratoe bersama Curacao.
Keduanya memiliki akar keluarga yang berasal dari Maluku. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa diaspora Indonesia turut mewarnai kompetisi paling bergengsi dalam dunia sepak bola.
Sorotan terbesar tentu mengarah kepada Tijjani Reijnders. Gelandang yang kini memperkuat juara Liga Inggris, Manchester City, merupakan pemain penting dalam skuad Belanda asuhan Ronald Koeman. Reijnders mendapatkan darah Indonesia dari ibunya yang merupakan keturunan Maluku.
Perjalanan kariernya dalam beberapa tahun terakhir terbilang luar biasa. Dari kompetisi domestik Belanda, ia berkembang menjadi bintang bersama AC Milan sebelum direkrut Manchester City dengan nilai transfer yang mencapai puluhan juta euro. Kini, ia menjadi salah satu tumpuan utama De Oranje dalam misi merebut gelar juara dunia.
Yang menarik, keluarga Reijnders memiliki hubungan unik dengan Indonesia. Adik kandung Tijjani, Eliano Reijnders, justru memilih membela Timnas Indonesia. Situasi ini menjadikan keluarga Reijnders sebagai simbol kuat keterhubungan diaspora Indonesia dengan sepak bola internasional.
Selain dikenal sebagai pesepak bola kelas dunia, Tijjani juga beberapa kali mengungkapkan kedekatannya dengan budaya Indonesia melalui makanan favorit keluarganya, mulai dari nasi goreng hingga berbagai masakan khas Indonesia Timur yang masih sering dinikmati dalam lingkungan keluarga.
Sementara itu, kisah inspiratif juga datang dari Godfried Roemeratoe. Gelandang bertahan Curacao tersebut memiliki garis keturunan dari marga Roemeratoe yang berasal dari Pulau Seram, Maluku.
Roemeratoe menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola Curacao setelah negara kecil di kawasan Karibia itu berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Di tengah persaingan ketat Zona CONCACAF yang dihuni negara-negara kuat seperti Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, keberhasilan Curacao menjadi salah satu kejutan terbesar menuju Piala Dunia 2026.
Bagi masyarakat Maluku, kehadiran Roemeratoe memiliki makna tersendiri. Namanya menjadi pengingat bahwa jejak orang-orang Maluku telah menyebar ke berbagai belahan dunia sejak berabad-abad lalu, termasuk hingga kawasan Karibia melalui sejarah panjang migrasi dan kolonialisme Belanda.
Piala Dunia 2026 pun berpotensi mencatatkan sejarah unik. Untuk pertama kalinya, dua pemain berdarah Indonesia tampil di putaran final dengan membela dua negara berbeda. Mereka mungkin mengenakan seragam yang berbeda, tetapi keduanya memiliki akar yang sama: Indonesia.
Belanda akan memulai perjuangannya di Grup F menghadapi Jepang dan Swedia, sementara Curacao yang berada di Grup E akan berhadapan dengan raksasa Eropa Jerman serta wakil Amerika Selatan, Ekuador.
Bagi jutaan pencinta sepak bola Indonesia, perjalanan Reijnders dan Roemeratoe memberikan pesan penting bahwa talenta dan keturunan Indonesia mampu bersaing di level tertinggi dunia. Mereka menjadi bukti bahwa jejak Nusantara tidak hanya hadir di Asia Tenggara, tetapi juga ikut bersinar di stadion-stadion megah Piala Dunia.
