MENASEHATI GUBERNUR

Editor: Admin
Foto istimewa 

Oleh:

Fahrul Abd Muid

Penulis Wakil Dekan II FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut


Khalifah Ali bin Abi Thalib dimasa lampau tahun 38 H, pernah menunjuk saudara Malik bin Al-Harits Al-Asytar menjadi pelaksana tugas Gubernur Mesir. Ali menunjuk saudara Malik untuk menggantikan saudara Muhammad bin Abi Bakar yang dicopot ditengah jalan. Ali pun menulis sebuah surat yang panjang pragrafnya kepada saudara Malik sebagai petunjuk tekhnis dalam melaksanakan sistem pemerintahannya. Surat Ali ini pun menjadi sebuah dokumen bersejarah yang dapat kita sebut sebagai pedoman administrasi pemerintahan. Dokumen ini tersimpan rapi oleh para ahli sejarah sampai hari ini. Jika kita membaca kitab “Najhul Balaghah”, salah satu isinya memuat dengan lengkap dokumen itu pada surat yang ke-53. Sejarawan muslim telah banyak menulis buku sejarah yang mengulas isi dokumen berharga ini. Walaupun Ali menulis suratnya itu sudah ribuan tahun yang lampau, tapi isinya masih sangat relevan untuk para Gubernur yang telah diberi amanah oleh Allah—Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjadi manusia nomor wahid di Provinsinya masing-masing.

Terdapat beberapa bagian penting yang akan dikutip dari surat Ali bin Abi Thalib ini. Marilah kita memahami lebih mendalam siapakah objek penerima surat tersebut. Ternyata, saudara Malik Al-Asytar adalah objek penerima nasihat, dia bukan sembarangan orang, melainkan salah seorang sahabat utama daripada khalifah Ali bin Abi Thalib. Saudara Malik hidup, dibesarkan, dan dikader dalam didikan sahabat utama Rasulullah Saw. Ali bin Abi Thalib sangat mencintainya. Ali pun berkata begini: “saudara Malik bagiku sama seperti aku bagi Rasulullah Saw.” Karena saudara Malik selalu ikut serta mendampingi Ali dalam berbagai peristiwa peperangan. Keberaniannya, kepiawainnya tidak perlu diragukan lagi dalam memainkan pedangnya dalam pertempuran sangat viral. Bahkan terkenal ke seluruh wilayah bangsa Arab saat itu. Kualitas ketakwaannya terlihat jelas dalam kekhusyukan ibadahnya dan sangat sederhana hidupnya—tidak glamor seperti para Gubernur kita di zaman modern ini. Yang oleh Al-Nakha’i meriwayatkan anekdot yang menarik dari perilaku kehidupan Gubernur Mesir, saudara Malik Al-Asytar yang patut saya, anda, dan kita semua contohi.   

Suatu hari, saudara Malik melewati pasar di Kufah dengan pakaian dan Serban yang sangat sederhana. Seorang pemilik toko sembako melemparkan daun-daun yang busuk kepadanya. Karena melihat penampilannya yang biasa-biasa saja. Saudara Malik tidak menghiraukan perbuatan yang tidak sopan ini—sangat kurang ajar. Saudara Malik melirik pun tidak sama sekali. Dia dengan tenang meneruskan perjalanannya. Ada orang yang berkata kepada pemilik toko, “tahukah anda siapa yang anda perlakukan dengan tidak sopan—kurang ajar itu?” Pemilik toko itu menjawab, “saya tidak tahu.” Maka orang itu memberi tahu kepadanya bahwa orang itu adalah saudara Malik Al-Asytar, sahabat utama Amirul Mukminin—khalifah Ali bin Abi Thalib. Pemilik toko pun merasa ketakutan—kaget dan sangat malu. Kemudian pemilik toko mengejar saudara Malik, dan mendapatkannya sedang melaksanakan shalat di Masjid. Setelah saudara Malik selesai shalat, pemilik toko langsung merebahkan dirinya, bersimpuh dihadapannya dan menyampaikan permohonan maafnya kepada saudara Malik sambil menangis menyesali perbuatannya.  

Saudara Malik mengangkat kepala orang itu dan berkata kepadanya: “demi Allah-Tuhan Yang Maha Pemaaf, saya datang ke masjid untuk memohonkan ampunan Allah Swt—Tuhan Yang Maha Pengampun bagimu.” Saya sendiri pun sudah memaafkan kamu waktu kejadian itu. Saya berharap Allah Swt—Tuhan Yang Maha Pengampun akan memaafkan kamu. Bukankah saudara Malik bila namanya terdengar oleh orang-orang akan menyebabkan musuh-musuhnya bergetar jiwanya karena ketakutan. Saudara Malik ternyata orangnya sangat penyabar, pemaaf, dan tidak pendendam kepada rakyatnya. 


Menasehati Gubernur

Ali bin Abi Thalib berkata: “hai saudara Malik sang Gubernur Mesir” saya telah mengirimkan engkau ke satu daerah yang telah memiliki pemerintahan sebelumnya. Gubernur sebelumnya ada yang adil dan banyak juga yang zalim terhadap rakyatnya. Rakyat akan memperhatikan tindakanmu sebagaimana mereka telah memperhatikan tindakan para Gubernur sebelum kamu. Kritikan rakyat atas kamu tidak akan terbendung, seperti kamu juga melakukan kritikan balik kepada rakyatmu. Engkau terpilih dalam pemilihan Gubernur benar berdasarkan suara terbanyak—tidak ada manipulasi suara rakyatmu. Tapi, ingat bahwa banyak juga suara rakyatmu yang tidak memberikan pilihan politiknya kepadamu. 

Wahai Gubernur, begitu engkau sudah terpilih menjadi seorang Gubernur, maka engkau adalah Gubernur rakyatmu—kamu bukanlah Gubernur keluargamu, kolegamu dan Gubernur timmu. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang baik itu dikenal dari keharuman namanya yang diedarkan lewat lidah rakyatmu sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika suatu saat nanti engkau tidak lagi menjadi Gubernur. Maka dari itu, perbendaharaan yang harus engkau kumpulkan sebagai Gubernur adalah amal shalehmu—bukan memperbanyak harta kekayaanmu. Karena itu, kendalikanlah hawa nafsumu dan tahanlah hatimu dari berbuat sesuatu yang tidak boleh kamu lakukan secara sembunyi-sembunyi sebagai Gubernur. Biasakanlah hatimu untuk terpaut menyanyagi rakyatmu. Janganlah engkau berdiri di atas rakyatmu seperti layaknya binatang buas-rakus yang ingin menerkam binatang lainnya. 

Wahai Gubernur, ada dua jenis rakyatmu: satu saudaramu dalam agama dan satu lagi saudaramu sebagai sesama makhluk Tuhan. Jika sewaktu-waktu mereka dapat berbuat salah kepadamu, baik sengaja atau tidak sengaja. Ulurkanlah maafmu sebagaimana Tuhan selalu mengulurkan ampunan kepadamu. Mereka berada di bawah kamu dan kamu berada di bawah imam kamu, dan Tuhan berada di atas dia yang menghendaki kamu menjadi Gubernur. Apalagi jabatan Gubernur itu hanya lima tahun, dan jika kamu terpilih kembali pada pemilihan selanjutnya, maka kamu hanyalah berkuasa menjadi Gubernur selama sepuluh tahun—dua periode saja.  

Wahai Gubernur, janganlah menempatkan dirimu melawan Tuhan Yang Maha Kuasa, karena pada hakikatnya kamu tidak mempunyai kekuasaan di hadapan kekuasaan-Nya. Kamu tidak dapat berbuat banyak dalam kebijakanmu tanpa kasih- sayang Tuhan. Jangan menyesal karena telah memaafkan kesalahan rakyatmu. Jangan menaruh iba ketika menghukum bawahanmu. Janganlah bertindak tergesa-gesa ketika kamu marah. Janganlah berkata: ‘saya telah diberikan kekuasaan, karena itu saya harus dipatuhi oleh kalian semua ketika saya memerintah,’ karena hal itu akan menimbulkan kebingungan dalam hatimu, melemahkan rasa beragamamu dan membawa rakyatmu kepada kehancuran. 

Wahai Gubernur, jika kekuasaan menimbulkan rasa sombong pada dirimu, perhatikanlah kebesaran Tuhan di atas kamu. Berbuatlah adil karena Allah Swt—Tuhan Yang Maha Adil. Dengan berbuat adil kepada rakyatmu, walaupun itu bertentangan dengan kepentinganmu, kepentingan orang-orang yang dekat denganmu—atau kepentingan orang-orang yang kamu sukai. Jika kamu tidak sanggup berbuat adil kepada rakyatmu, maka kamu menjadi Gubernur penindas rakyatmu. Bila kamu menindas makhluk Tuhan—bukan saja makhluk-Nya, tetapi Tuhan pun akan menjadi musuh kamu. Bila kamu sudah bermusuhan dengan Tuhan, maka Tuhan akan menghancurkan kekuasaanmu secepat kilat bahkan lebih cepat dari itu. Kamu akan benar-benar berperang dengan Tuhan sampai kamu harus bertobat kepada Tuhan-Mu sebelum kamu wafat. Karena tidak ada yang lebih cepat dalam menghalangi karunia Tuhan dan mempercepat datangnya hukuman Tuhan—murka Tuhan selain kamu melakukan penindasan kemanusiaan. Karena Tuhan paling cepat mendengarkan do’anya orang-orang yang tertindas dan Tuhan senantiasa siap menghukum para Gubernur yang hobi dalam menindas rakyatnya. Wallahu ‘alam bishshawab.

Share:
Komentar

Berita Terkini