![]() |
| Foto istimewa |
Ternate – Wakil Ketua PWNU Maluku Utara, Salim Taib, menilai konflik dan polarisasi yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar telah berdampak hingga ke daerah. Menurutnya, daerah kini menjadi pihak yang paling dirugikan akibat tarik-menarik kepentingan di tingkat pusat.
“Polarisasi dan faksi-faksi yang berkembang menjelang Muktamar kini merambah hingga ke daerah. Daerah menjadi korban dari keganasan elite-elite NU,” ujar Salim, Rabu (17/6/2026).
Salim menyoroti belum diterbitkannya Surat Keputusan (SK) bagi enam PCNU di Maluku Utara yang telah melaksanakan Konferensi Cabang sejak lima hingga enam bulan lalu. Ia juga menyinggung polemik PCNU Kepulauan Sula, di mana hasil Konfercab yang menetapkan Safrudin Sapsuha sebagai ketua justru diikuti penerbitan SK carataker oleh PBNU yang menunjuk Lukman Umafagur.
Menurut mantan Ketua PW Ansor Maluku Utara itu, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana konflik di tingkat pusat berdampak langsung terhadap dinamika organisasi di daerah.
Selain itu, Salim meminta PWNU Maluku Utara membenahi tata kelola administrasi organisasi. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan strategis, termasuk pengusulan SK cabang maupun rekomendasi carataker, harus diputuskan melalui rapat pleno sesuai prinsip kolektif-kolegial NU.
“NU adalah organisasi kolektif-kolegial. Keputusan penting tidak boleh dimainkan oleh satu atau dua orang saja,” tegasnya.
Pernyataan Salim menjadi sorotan di tengah meningkatnya dinamika internal NU menjelang Muktamar yang dinilai akan menentukan arah konsolidasi organisasi ke depan. (Red/tim)
