Diduga Hasut Kekerasan, Oknum DPRD Halbar Terancam Dilaporkan ke BK

Editor: Admin
Foto istimewa 

Ternate — Seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Halmahera Barat berinisial HH alias Hariadi terancam dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Halbar. Ia diduga terlibat penghasutan dalam kasus pengeroyokan dan penganiayaan terhadap dua kader (HMI) Cabang Ternate.

Dugaan tersebut diungkapkan tim kuasa hukum korban, Faisal Rumbaroa, usai mendampingi dua korban, Ismail Apriaji Manuputty (27) dan Baslan Aliasin (26), saat memberikan keterangan kepada penyidik di , Minggu (4/1/2026).

Peristiwa bermula dari dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang dialami kedua kader HMI saat acara pelantikan di Asrama Haji, Kelurahan Ngade, pada 29 Desember 2025. Ismail diketahui menjabat Sekretaris Umum HMI Cabang Ternate. Sejumlah terduga pelaku, termasuk oknum anggota DPRD Halbar, telah dilaporkan ke kepolisian sejak Sabtu, 30 Desember 2025.

“Hari ini klien kami sudah dimintai keterangan sebagai saksi korban terkait dugaan pengeroyokan, penganiayaan, dan penghasutan. Kami menunggu agenda lanjutan dari penyidik untuk pemeriksaan saksi-saksi fakta dan para terlapor,” ujar Faisal kepada wartawan.

Faisal menegaskan, Hariadi yang juga disebut sebagai alumni HMI, dilaporkan karena dugaan penghasutan yang terekam dalam sebuah video saat kejadian. Dalam rekaman tersebut, Hariadi diduga meneriakkan kalimat provokatif kepada sejumlah mahasiswa.

“Yang bersangkutan diduga melakukan penghasutan dengan teriakan ‘bunuh dia’, sehingga kami menilai perbuatannya memenuhi unsur Pasal 20 ayat (1) KUHP terbaru tentang penyertaan dalam tindak pidana,” tegas Faisal.

Selain proses hukum pidana, tim kuasa hukum juga memastikan akan membawa kasus ini ke ranah etik. Surat laporan akan dilayangkan ke Badan Kehormatan DPRD Halmahera Barat untuk meminta pemeriksaan terhadap Hariadi atas dugaan pelanggaran kode etik lembaga.

“Sebagai pejabat publik, tindakan seperti ini tidak bisa ditoleransi. Kami akan melaporkannya secara resmi ke BK DPRD Halbar agar diperiksa secara etik,” pungkasnya.

Kasus ini kini masih dalam penanganan kepolisian, sementara publik menunggu langkah lanjutan penyidik terhadap para terlapor. Di politik lokal, isu etika seringkali lebih panas dari kopi pagi—dan kali ini, cangkirnya jelas sedang retak. (Red/tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini