TAUHID BEKERJA DALAM DIAM

Editor: Admin
Foto istimewa 

Oleh: 

Mukhtar Adam

Kapala Kampoeng Melanesia 

Ada jenis kepemimpinan yang tidak merasa perlu berdiri di bawah sorot lampu. Ia tidak sibuk membangun citra setiap hari, tidak menjadikan kerja administratif sebagai tontonan rutin di media sosial, dan tidak menempatkan diri sebagai pusat dari setiap capaian. Kepemimpinan semacam ini memilih bekerja melalui gerak kolektif, bukan melalui penegasan ego personal.

Di Kota Ternate, dalam satu tahun terakhir, publik menyaksikan model kepemimpinan seperti itu. Tidak terlalu ramai di media sosial, namun terasa hadir dalam layanan publik, dalam perbaikan tata kota, dalam denyut ekonomi warga. Sebuah kerja yang tenang, tetapi konsisten.

Pilihan bekerja dalam diam tentu bukan tanpa risiko. Dalam ekosistem politik yang semakin dipengaruhi algoritma, pemimpin yang tidak tampil personal kerap dianggap “tidak bekerja”. Di sinilah paradoksnya. Kepemimpinan yang terlalu sering menjual persona bisa saja menutupi problem pembangunan yang tak terselesaikan. Sebaliknya, kepemimpinan yang tidak gemar tampil justru sering kali lebih fokus menerjemahkan kebutuhan publik menjadi layanan nyata.

Dalam khazanah budaya Maluku Utara dikenal etos Babari—semangat gotong royong yang menempatkan kerja bersama di atas keunggulan individu. Babari bukan sekadar kerja bakti; ia adalah falsafah sosial bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika dikerjakan secara kolektif, dengan rasa memiliki yang sama. Tidak ada “saya” yang dominan. Yang ada adalah “kita” yang bergerak.

Model ini sejalan dengan prinsip good governance, di mana pemerintah tidak berdiri sebagai aktor tunggal, melainkan fasilitator gerak sosial. Pemimpin bukan pusat panggung, tetapi pengatur orkestrasi. Ia memastikan sistem bekerja, perangkat bergerak, dan masyarakat diberdayakan.

Dalam konteks ini, kepemimpinan Tauhid Soleman terbaca sebagai upaya membaca etos Babari dengan tepat. Alih-alih membangun personal branding, ia mendorong orkestrasi kebijakan. Perangkat kota digerakkan, kelurahan diberdayakan, pelaku usaha kecil diberi ruang, komunitas pulau dilibatkan, hingga rumah tangga paling bawah disentuh kebijakan.

Di ruang-ruang percakapan warga, sering terdengar kalimat sederhana namun bermakna: “Tidak banyak bicara, tapi terasa dalam layanan.” Kalimat itu mungkin tidak viral, tetapi ia jujur. Dan kejujuran dalam pembangunan jauh lebih penting daripada sensasi yang cepat menguap.

Ukuran keberhasilan kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada intensitas unggahan media sosial, melainkan pada data empiris yang terverifikasi. Prinsip Satu Data Indonesia menegaskan bahwa rujukan utama pembangunan adalah data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Dari sanalah capaian harus dibaca secara objektif.

Jika merujuk pada indikator ekonomi dan sosial, Kota Ternate menunjukkan tren yang inklusif. Pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata bertumpu pada ekstraksi, tetapi mendorong distribusi manfaat yang lebih luas. Angka kemiskinan berada pada level terendah di Maluku Utara. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menempati posisi tertinggi di provinsi, dengan peningkatan rata-rata di atas 0,75 basis poin per tahun. Usia harapan hidup meningkat, rata-rata lama sekolah membaik, dan pendapatan per kapita menunjukkan daya tahan ekonomi yang lebih kuat.

Data-data tersebut menunjukkan satu pesan sederhana: pembangunan bukan tentang siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling konsisten memperbaiki kualitas hidup warganya.

Membangun kota bukan sekadar soal citra. Ia tentang dapur yang tetap mengepul, anak-anak yang terus bersekolah, layanan kesehatan yang terjangkau, dan ruang hidup yang nyaman tanpa merusak alam. Jika pembangunan benar-benar dirasakan hingga ke rumah tangga paling bawah, maka di situlah keberhasilan sejati berada.

Pada akhirnya, kerja dalam diam bukan berarti tanpa arah. Ia justru menunjukkan kepercayaan diri. Sebab pembangunan yang kokoh tidak lahir dari sorotan kamera, melainkan dari kebijakan yang terukur, kolaborasi yang terjaga, dan keberpihakan yang konsisten pada rakyat.

Dan dalam dunia yang semakin bising, kadang yang paling kuat memang bukan yang paling keras—melainkan yang paling nyata hasilnya.

Share:
Komentar

Berita Terkini