Peningkatan Literasi Digital-Spasial Masyarakat Rua

Editor: Admin

Kolaborasi Dosen FKIP UNKHAIR, HAGI Maluku Utara dan FPRB Kota Ternate

Foto istimewa 

Ternate — Upaya pemulihan dan peningkatan kapasitas masyarakat pasca-bencana terus digalakkan di Kota Ternate. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun bekerja sama dengan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Maluku Utara dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Ternate melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kemitraan di Kelurahan Rua, Kota Ternate, Senin (18/05/2026). 

Kegiatan yang bertajuk “Peningkatan Literasi Digital-Spasial Masyarakat Rua Melalui Pemanfaatan Dashboard Bencana dan Pemetaan Presisi Berbasis Drone” ini menjadi Langkah konkret dalam membangun ketangguhan dalam menghadapi ancaman bencana melalui pemanfaatan teknologi digital dan informasi spasial. Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, pemuda, dan warga setempat. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi digital-spasial dalam mendukung mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi seperti Kelurahan Rua.

Kolaborasi antara Dosen FKIP UNKHAIR, HAGI Maluku Utara dan FPRB Kota Ternate menjadi bentuk sinergi antara akademisi dan organisasi profesi dalam mendukung penguatan literasi kebencanaan masyarakat. Kehadiran para ahli geofisika dalam kegiatan tersebut memberikan penguatan materi terkait karakteristik ancaman bencana geologi di wilayah Maluku Utara yang berada pada kawasan cincin api Pasifik dan memiliki aktivitas tektonik yang cukup tinggi.

Dalam sambutannya, Tim Pelaksana kegiatan, Anggit Sasmita, S.T., M.Si dan Dr. Rohima Wahyu Ningrum, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini diinisiasi sebagai respon mendesak atas perubahan bentang lahan yang drastis akibat bencana banjir bandang yang melanda Kelurahan Rua pada 25 Agustus 2024 lalu. Bencana tersebut tidak hanya menyisakan trauma kolektif, tetapi juga menyebabkan jalur evakuasi dan sistem peringatan dini yang lama menjadi tidak relevan akibat sedimentasi material sungai mati atau barangka. Perkembangan teknologi saat ini memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk memperoleh informasi kebencanaan secara cepat, akurat, dan mudah diakses. Oleh karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan memahami dan menggunakan berbagai platform digital yang mendukung pengurangan risiko bencana.

“Literasi digital-spasial menjadi sangat penting karena masyarakat saat ini harus mampu memahami informasi kebencanaan berbasis data. Dengan teknologi yang ada, masyarakat dapat mengetahui potensi risiko di wilayahnya dan mengambil langkah antisipasi lebih awal,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan pengabdian ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktik langsung kepada masyarakat terkait penggunaan dashboard bencana, aplikasi InaRISK, informasi cuaca dan gempa dari BMKG, serta pemanfaatan drone untuk pemetaan wilayah secara presisi.

Pemateri kegiatan, Bapak Moh. Ridwan Lessy, PhD (Plt. Ketua Forum PRB Kota Ternate) menjelaskan berbagai materi mengenai pemanfaatan teknologi kebencanaan modern yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah penggunaan aplikasi InaRISK, sebuah platform milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat risiko bencana di suatu wilayah.

Dalam sesi praktik, peserta diajarkan cara mengakses aplikasi InaRISK melalui telepon pintar untuk melihat informasi potensi ancaman bencana seperti gempa bumi, longsor, banjir, hingga tsunami. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya data spasial dalam menentukan langkah mitigasi dan perencanaan evakuasi di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan layanan informasi resmi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) yaitu info BMKG yang berisi terkait cuaca, gempa bumi, serta peringatan dini bencana. Pak Ridwan menjelaskan bahwa masyarakat harus terbiasa memanfaatkan informasi BMKG sebagai sumber informasi terpercaya guna menghindari penyebaran hoaks atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Masyarakat perlu mengetahui cara membaca informasi gempa, prakiraan cuaca, dan peringatan dini dari BMKG. Informasi tersebut sangat penting untuk mendukung kesiapsiagaan, terutama bagi masyarakat pesisir dan daerah rawan bencana,” ujarnya.

Perwakilan HAGI Maluku Utara yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga memberikan edukasi mengenai kondisi geologi dan potensi kebencanaan di wilayah Maluku Utara. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda awal bencana, memahami jalur evakuasi, serta membangun budaya sadar bencana di lingkungan masyarakat.

Salah satu kegiatan utama dalam pelatihan tersebut adalah pembagian kelompok masyarakat berdasarkan wilayah RT untuk menentukan titik aman dan jalur evakuasi ketika terjadi bencana. Peserta dibagi menjadi kelompok yang mewakili 8 RT di Kelurahan Rua. Setiap kelompok melakukan diskusi dan identifikasi lokasi yang dianggap aman untuk dijadikan titik kumpul sementara apabila terjadi gempa bumi, longsor, maupun tsunami.

Melalui pendampingan tim pengabdian, masing-masing kelompok memetakan kondisi lingkungan di wilayah RT mereka, termasuk akses jalan, kawasan rawan, lokasi pemukiman padat penduduk, hingga area terbuka yang dapat dimanfaatkan sebagai titik evakuasi. Hasil diskusi tersebut kemudian dipadukan dengan data spasial dan hasil pemetaan drone untuk menghasilkan rekomendasi titik aman yang lebih akurat dan mudah dijangkau masyarakat.

Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai teknologi digital-spasial, tetapi juga memahami pentingnya kesiapsiagaan berbasis informasi dan data. Warga mengaku kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan wawasan praktis yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pengabdian ini mendapat apresiasi dari masyarakat Kelurahan Rua karena dinilai mampu menghadirkan edukasi kebencanaan yang inovatif, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Kehadiran teknologi seperti dashboard bencana, aplikasi InaRISK, info BMKG, dan pemetaan berbasis drone diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana secara mandiri dan berkelanjutan.

Melalui program ini, Dosen FKIP UNKHAIR, HAGI Maluku Utara dan FPRB Kota Ternate kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan masyarakat yang tangguh bencana melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di berbagai wilayah lain di Maluku Utara guna meningkatkan literasi digital-spasial masyarakat sekaligus memperkuat budaya sadar bencana di tengah masyarakat. (Red/tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini