Akademisi Soroti Program SDM IWIP, Kampus Lokal Dinilai Belum Dilibatkan Maksimal

Editor: Admin
Foto istimewa 

Ternate — Program pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang dijalankan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mendapat sorotan dari kalangan akademisi Maluku Utara. Program magang dan pengembangan talenta industri dinilai belum sepenuhnya memberikan ruang strategis bagi perguruan tinggi lokal dalam menyiapkan tenaga kerja industri berbasis daerah.

Sorotan tersebut disampaikan Dosen ISDIK Kie Raha Maluku Utara, A. Andi Usman. Ia menilai keberadaan industri strategis nasional di kawasan Halmahera Tengah seharusnya menjadi momentum penting bagi penguatan kualitas pendidikan tinggi lokal serta peningkatan kapasitas generasi muda Maluku Utara.

Menurutnya, masyarakat di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur merupakan kelompok yang paling dekat dan paling terdampak langsung dengan aktivitas industri berskala besar tersebut.

“Putra-putri Maluku Utara, khususnya di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, harus menjadi prioritas utama dalam pengembangan SDM industri, bukan sekadar pelengkap,” ujar Andi Usman, Selasa (19/5/2026).

Ia mengatakan, selama ini kampus-kampus lokal di Maluku Utara terus berupaya membina generasi daerah meski di tengah keterbatasan fasilitas dan dukungan. Namun, keterlibatan perguruan tinggi lokal dalam agenda pengembangan industri dinilai masih belum optimal.

Andi Usman menegaskan bahwa penguatan SDM lokal memiliki dasar hukum yang jelas. Ia merujuk Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa kekayaan alam harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Menurutnya, makna kemakmuran tidak hanya berbicara soal investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan kapasitas masyarakat sekitar wilayah eksplorasi sumber daya alam.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara (Minerba) juga mewajibkan perusahaan pertambangan menjalankan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Dalam perspektif akademik, Andi Usman menilai pendekatan pembangunan industri seharusnya mengacu pada teori pembangunan partisipatoris Robert Chambers yang menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama pembangunan. Sementara teori Human Capital dari Theodore Schultz menekankan pentingnya investasi pendidikan lokal sebagai fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Ia mengingatkan, apabila pengembangan talenta industri lebih dominan diarahkan keluar daerah, maka kondisi tersebut berpotensi memperlemah daya saing SDM lokal dan menciptakan ketergantungan terhadap tenaga kerja eksternal di tengah eksploitasi sumber daya alam Maluku Utara.

Karena itu, ia mendorong IWIP membangun kolaborasi yang lebih konkret dengan perguruan tinggi di Maluku Utara melalui program riset industri, laboratorium vokasi, magang berbasis kampus daerah, hingga pemberian beasiswa afirmatif bagi masyarakat lingkar industri.

“Industrialisasi besar di Halmahera jangan hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus melahirkan kebangkitan pendidikan tinggi daerah dan penguatan kapasitas generasi lokal,” tutupnya.

Share:
Komentar

Berita Terkini