Putra-Putri Pulau Obi Jadi Tuan Rumah di Industri Nikel

Editor: Admin

 


Ternate - HARITA Nickel terus membuka ruang bagi generasi muda lokal di Pulau Obi untuk berkembang dan berkarier di industri nikel. Sejumlah putra-putri daerah kini menempati posisi strategis di perusahaan, mulai dari bidang keamanan, konstruksi, hingga administrasi dan penerjemah bahasa asing.

Salah satu kisah datang dari Frangi Cako, pemuda asal Desa Kawasi yang memulai karier di perusahaan pada 2015 sebagai anggota security saat usianya baru 18 tahun. Berkat dedikasi dan kerja keras, Frangi yang akrab disapa Angki kini dipercaya menjabat sebagai Supervisor Security sejak September 2025.

Dalam tugasnya saat ini, Angki memimpin puluhan personel yang ditempatkan di sejumlah titik strategis perusahaan. Ia menjelaskan, pekerjaan security tidak hanya sebatas menjaga pos, tetapi juga mencakup pengaturan personel, koordinasi keselamatan kerja, hingga administrasi perkantoran.

“Di Harita Nickel kami juga difasilitasi kursus komputer untuk menunjang pekerjaan administrasi. Saya belajar komputer justru di sini,” ujar Angki.

Ia juga menepis anggapan bahwa tenaga kerja lokal tidak mendapat tempat di perusahaan. Menurutnya, masyarakat asli Obi memiliki peluang besar untuk berkembang selama menunjukkan dedikasi dan etos kerja yang baik.

“Saya lahir dan besar di Kawasi. Bisa sampai di posisi supervisor membuktikan bahwa putra daerah juga punya kesempatan di sini,” tegasnya.

Kisah serupa datang dari Yokber Cecene, warga Kawasi yang kini menjabat sebagai Supervisor di bagian Construction & Engineering. Yokber mulai bergabung sejak 2007, saat perusahaan pertama kali merekrut puluhan warga lokal untuk membangun fondasi awal operasional industri di Pulau Obi.

Berbekal pengalaman di lapangan, Yokber kini memimpin sejumlah foreman dan kru konstruksi. Salah satu proyek yang pernah dikerjakan timnya adalah pembangunan Jembatan Akelamo yang menghubungkan Kawasi dan Soligi.

“Waktu awal kerja saya masih bujang. Sekarang anak saya sudah mau lulus SMA dan bercita-cita masuk sekolah penerbangan,” ungkap Yokber bangga.

Menurutnya, kehadiran industri turut memberikan dampak positif terhadap perekonomian keluarga. Selain dirinya bekerja di perusahaan, sang istri juga menjalankan usaha sembako di kawasan ekonomi baru Desa Kawasi yang berkembang cukup baik.

Sementara itu, dari Desa Soligi, Sifa Sahbila Amirudin memulai langkah karier melalui program PELITA atau Peningkatan Keahlian dan Keterampilan yang difasilitasi perusahaan. Dalam program tersebut, Sifa mengikuti pelatihan bahasa Mandarin dan komputer sebelum akhirnya menjadi karyawan magang di Departemen HRGA Site Obi.

“Saya memilih kursus komputer dan bahasa Mandarin karena sangat relevan dengan kebutuhan komunikasi industri di Pulau Obi,” kata Sifa.

Perempuan 19 tahun itu mengaku sempat khawatir saat pertama kali menjalani magang. Namun, ia merasa diterima dengan baik oleh para karyawan lain yang banyak membantu dan membimbingnya selama bekerja.

Kesempatan tersebut juga menjadi jalan bagi Sifa untuk membantu perekonomian keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan karier di masa depan.

Kisah Angki, Yokber, dan Sifa menjadi gambaran bagaimana masyarakat lokal Pulau Obi kini tidak lagi hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya industri nikel. Mereka mulai mengambil peran penting dan menjadi bagian dari pembangunan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Share:
Komentar

Berita Terkini