IAIN TERNATE: BUTUH PERUBAHAN RADIKAL

Editor: Admin

 

Foto istimewa 

Oleh: Fahrul Abd Muid

Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut

 Institut Agama Islam Negeri-IAIN Ternate sangat mendesak adanya reformasi-perubahan secara holistik ditubuh lembaga perguruan tinggi keagamaan Islam negeri ini. Reformasi-perubahan menyeluruh-komprehensif harus dilakukan secara radikal oleh Rektor baru IAIN Ternate agar perubahan itu menyentuh pada akar persoalan yang selama ini dikeluh-kesahkan oleh civitas akdemika. Reformasi-perubahan secara radikal dan berkelanjutan serta harus mencakup hal-hal fundamentalis yang terkait live-langsung dengan menciptakan kesejahteraan para dosennya secara maksimal. Pembayaran hak-hak dosen wajib hukumnya untuk dibayarkan secara adil dan merata-katakanlah Rektor IAIN Ternate yang baru harus memiliki nyali-keberanian agar membayar honorarium dosen penasehat akademik, membayar dosen pembimbing proposal dan dosen penguji skripsi secara signifikan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia.

Hari ini IAIN Ternate sangat lemah-dho’if jiddan pada aspek kapasitas kelembagaannya sendiri, sehingga tidak mampu menjawab tantangan globalisasi dan transformasi digital dunia pendidikan yang semakin kompetitif. Kampus ini juga sangat lemah pada apsek tata kelola birokrasinya. Pelayanan birokrasinya sangat buruk karena cara melayaninya yang terjadi berdasarkan like and dis-like-suka dan tidak suka. Tidak terjadinya transformasi pada lembaga ini menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam negeri di Provinsi Maluku Utara yang unggul dan berdaya saing. Kampus agama Islam ini sangat ketinggalan jauh-ba’idun jiddan dan mengalami fase kemunduran akademik yang serius jika dimuqarinkan-dikomparatifkan dengan kampus PTKIN di Provinsi lain di Indonesia. IAIN Ternate tidak mengalami kemajuan yang luar biasa bahkan tidak memiliki prestasi yang dibanggakan baik di level lokal maupun pada level nasional. Karena IAIN Ternate mengalami krisis identitas-krisis kepemimpinan serius yang harus diselamatkan dengan jalan melakukan perubahan radikal oleh Rektor baru. Padahal lembaga pendidikan tinggi Islam ini harus dijadikan “episentrum” peradaban pendidikan Islam di Provinsi Maluku Utara sebagai strategi utama dalam menghasilkan sumber daya manusia-SDM yang unggul dan religius. Aneh tapi nyata kawan!

 IAIN Tenate saat ini tidak memiliki kapasitas untuk menjadi lembaga pendidikan tinggi Islam di Provinsi Maluku Utara yang bisa membangun sains dan teknologi dikandangnya sendiri. Bahkan kampus ini tidak lagi dicintai oleh masyarakat Islam Maluku Utara. Hal ini disebabkan oleh gaya kepemimpinan otoriter Rektorat yang ditunjukkan secara bar-bar. Muncul adagium yang sangat negatif dikalangan masyarakat bahwa selama orang itu masih menjadi bagian dari kepemimpinan kampus-karena masih dipertahankan, maka anak-anak kami tidak akan pernah masuk mendaftar kuliah di kampus itu. Bagaimana mungkin IAIN Ternate bisa berkembang kearah yang lebih baik jika diluaran sana masyarakat membenci kampus ini hanya karena ulah orang-orang itu. Survei telah membuktikan bahwa ternyata IAIN Ternate memiliki citra yang sangat buruk ditengah masyarakat Maluku Utara. Hal inilah yang menyebabkan setiap tahun penerimaan mahasiswa baru di IAIN Ternate sangat menurun drastis-terjun bebas masuk kedalam jurang kehancuran. Ini sangat memalukan. Belum lagi terjadi praktek nyata saling menzalimi di dalam kampus ini. Aneh tapi nyata kawan! lalu kami harus bagaimana lagi kawan!

 IAIN Ternate harus diselamatkan oleh kepemimpinan Rektorat baru dan masih sangat mungkin membawa secercah harapan untuk memajukan kampus Islam ini kearah yang lebih baik. Maka reformasi-perubahan secara radikal pada IAIN Ternate sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam di Maluku Utara akan memberikan konstribusi nyata ditengah masyarakat, baik pada peningkatan mutunya, aksesibiltasnya dan daya saing dengan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri-PTKIN di seluruh Indonesia. Kepemimpinan baru IAIN Ternate pasti bisa menciptakan langkah strategis dalam membangun ekosistem Tri Dharma Perguruan Tinggi ini yang inklusif, modern dan berakar pada nilai-nilai kebudayaan Moloku Kie Raha. Karena inilah wujud kolaborasi yang hendak dijadikan sebagai kekuatan utama yang bisa mendorong transformasi IAIN Ternate beralih status menjadi Universitas Islam Negeri-UIN Sultan Babullah Moloku Kie Raha yang pengembangan kampusnya pasti di fokuskan di Ibu Kota Provinsi Maluku Utara yang berkedudukan di Kota Sofifi.

 Dari segi akademik, IAIN Ternate telah kehilangan daya saingnya di tingkat nasional dan di tingkat internasional. Dari segi manajemen kelembagaan, IAIN Ternate telah mengalami disfungsi institusional yang parah. Dalam situasi seperti ini, kehadiran Rektor baru IAIN Ternate diharapkan dapat membawa perubahan radikal untuk mengembalikan kejayaan IAIN Ternate. Namun, perubahan radikal itu tidak dapat dilakukan dengan cara-cara konvensional. Rektor baru IAIN Ternate harus memiliki visi dan misi yang jelas, serta kemampuan negosisasi yang handal untuk mengimplementasikan perubahan yang dibutuhkan.

 Oleh karena itu, Rektor baru IAIN Ternate harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi IAIN Ternate. Evaluasi ini harus mencakup semua aspek, mulai dari penguatan sistem kurikulum yang berbasis ekoteologi, mendorong dosen-dosen untuk menjadi Guru Besar, fasilitas kampus yang modern, hingga manajemen tata Kelola yang jayyid jiddan. Dengan demikian, Rektor baru harus mengetahui secara pasti apa yang menjadi kelemahan IAIN Ternate dan apa yang perlu diperbaiki secara cepat secepat kilat dalam kurun waktu empat tahun. Rektor baru IAIN Ternate harus memiliki kemampuan-al-qawiyyu al-amin-kejujuran untuk mengembangkan strategi perubahan yang efektif. Strategi ini harus mencakup peningkatan kualitas akademik, peningkatan kemampuan dosen, dan peningkatan fasilitas yang lebih modern dan nyaman. Selain itu, Rektor baru IAIN Ternate juga harus memiliki relasi kekuasaan dengan Pemerintah Daerah dan Pusat untuk meningkatan kolaborasi-kerjasama dengan institusi itu, baik di dalam maupun luar negeri. Yang tidak kalah pentingnya, Rektor baru IAIN Ternate harus memiliki kompetensi-kemampuan untuk mengimplemantasikan perubahan radikal yang dibutuhkan dan harus dilakukan dengan cara-cara yang efektif dan efisien tanpa harus mengorbankan hak-hak orang lain, serta dengan melibatkan semua pihak yang saling berkait-kelindang. Meletakkan kepentingan lembaga IAIN Ternate di atas segalanya dan memanusiakan civitas akademika di IAIN Ternate. Semoga bermanfaat tulisan ini. Wallahu ‘alam bishshawab

Share:
Komentar

Berita Terkini