Dr. Iswadi M. Ahmad., M.Pd
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
Pukul
01.30 malam hari, Rabu, 7 Januari 2026, di tengah hujan
deras yang disertai angin kencang, sebuah rumah warga di RT 11 Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate
Selatan, roboh perlahan lalu ambruk. Suaranya tidak terlalu
keras, tetapi cukup membuat jantung berdegup kencang. Di balik gelap malam dan
hujan yang tak kunjung reda, terdengar tangis yang tertahan, tangis sebuah
keluarga yang baru saja kehilangan tempat paling aman dalam hidup mereka.
Rumah
itu milik keluarga Risno
Danil, yang akrab disapa Aba Noken. Bagian bangunan utama
mengalami kerusakan parah. Atap tak lagi utuh, dinding ambruk, dan air hujan
masuk tanpa ampun. Pada jam sedingin itu, yang paling terasa bukan hanya
rusaknya bangunan, melainkan rasa takut, bingung, dan ketidakpastian. Bagi
warga kecil, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah ruang aman, tempat
bernaung dari cuaca dan kerasnya hidup. Ketika rumah roboh, rasa aman pun ikut
runtuh.
Musibah
memang datang tanpa aba-aba, dan selalu terasa lebih kejam ketika menimpa
mereka yang hidupnya paling sederhana. Dalam kondisi seperti inilah, kehadiran
seorang pemimpin benar-benar diuji: apakah ia hanya hadir lewat pernyataan
empati, atau sungguh-sungguh datang membawa solusi. Di Sasa, harapan itu tidak dibiarkan
berlarut. Pagi itu, sekitar pukul 10.00, ketika saya baru saja
bangun dan melangkah keluar rumah, saya melihat Wakil Wali Kota Ternate, Pak
Nasri Abubakar, sudah berada di lokasi musibah. Kehadiran beliau bukan sekadar simbolik, melainkan penanda bahwa
kepedulian diwujudkan melalui tindakan nyata.
Menurut Rhenald Kasali (2021), pakar kepemimpinan dan perubahan
sosial, menyatakan bahwa empati adalah fondasi utama kepemimpinan yang
dipercaya rakyat. Empati tidak lahir dari balik meja, melainkan dari keberanian
pemimpin untuk turun langsung ke lapangan, melihat dengan mata kepala sendiri,
dan mendengar keluhan warga apa adanya. Dari sanalah keputusan yang tepat dan manusiawi
bisa diambil. Empati dalam pengertian ini, bukan sekadar rasa iba, tetapi sikap
aktif untuk hadir, terlibat, dan bertindak.
Tidak berhenti pada kehadiran, Pak Nasri
Abubakar juga bergerak cepat., melalui Nasab Foundation, yayasan sosial yang
didirikan sebagai wadah pengabdian kepada masyarakat di luar struktur
pemerintahan, Pak Nasri Abubakar memastikan bahwa rumah keluarga Aba Noken akan diperbaiki menggunakan dana pribadi.
Bagi warga yang masih diliputi trauma pasca kejadian, kabar ini bukan sekedar
bantuan materi, tetapi harapan bahwa mereka tidak dibiarkan sendiri menghadapi
musibah.
Hal
ini sejalan dengan pandangan Eko
Prasojo (2025), pakar administrasi publik Universitas
Indonesia, yang menekankan pentingnya kepemimpinan responsif dalam situasi
krisis. Menurutnya, dalam kondisi darurat, pemimpin harus berani mengambil
keputusan cepat dan bertanggung jawab. Respons yang cepat akan mempercepat
pemulihan dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Kamis,
9 Januari 2026, tim Nasab Foundation turun langsung ke
lokasi. Saya kembali menyaksikan Pembina
Nasab Foundation, Pak Hi. Jasman Abubakar, memimpin pengecekan
volume bangunan dan tingkat kerusakan. Tidak hanya melihat bagian yang roboh,
tim juga mencermati kondisi rumah secara menyeluruh. Fakta di lapangan
menunjukkan bahwa selain kerusakan akibat bencana, masih terdapat kekurangan
mendasar yang selama ini belum terbangun secara layak.
Tim
Nasab Foundation langsung melakukan pengadaan material bangunan. Jumat 9, Januari 2026, material pasir telah
di drop ke lokasi. Sementara material lain seperti batu bata, pondasi, dan
kebutuhan konstruksi tambahan dijadwalkan tiba pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Kecepatan ini menjadi sangat penting, karena
bagi warga korban bencana, kepastian yang datang cepat menentukan rasa aman dan
harapan mereka.
Patut
dicatat, seluruh bantuan ini bersumber
dari dana pribadi Pak Nasri Abubakar. Ini bukan aksi
seremonial, melainkan bagian dari komitmen yang telah beliau sampaikan sejak
masa kampanye: bahwa gaji jabatan yang diterimanya tidak untuk kepentingan
pribadi, tetapi dikembalikan
kepada masyarakat melalui kerja-kerja sosial. Dari komitmen inilah Nasab Foundation
lahir dan bergerak.
Sebagai
warga yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut, saya merasakan bahwa
bantuan ini bukan sekadar soal membangun kembali dinding dan atap yang rusak. Lebih
dari itu, Pak Nasri Abubakar membangun kembali kepercayaan warga bahwa di saat paling
gelap, masih ada pemimpin yang peduli, dan bertindak cepat. Bagi masyarakat
Maluku Utara, yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong royong, dan
saling menguatkan, tindakan seperti ini memiliki makna yang mendalam melampaui
angka dan material.
Kisah
musibah di Sasa mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak menunggu laporan
resmi atau rapat panjang di ruang ber-AC. Ia lahir dari empati, kepekaan
sosial, kesediaan berkorban, dan keberanian mengambil tanggung jawab secara
cepat. Di tengah hujan, angin, dan tangis warga, Pak Nasri Abubakar menunjukkan
bahwa jabatan publik memiliki makna ketika digunakan untuk melayani masyarakat.
Warga
Sasa mungkin akan selalu mengingat malam ketika angin kencang merobohkan rumah Aba
Noken. Namun yang tak kalah kuat melekat dalam ingatan adalah hari-hari
setelahnya, ketika bantuan mulai datang, material diturunkan, rumah mulai
dibangun, dan harapan perlahan dibangun kembali dari puing-puing yang tersisa.
Di masa-masa itulah, Pak Nasri Abubakar dikenang sebagai sosok pemimpin yang
hadir membawa pertolongan dan kasih sayang. Kehadiran beliau memberi keyakinan
bahwa warga tidak dibiarkan sendiri menghadapi musibah.
Sebagai
warga Kelurahan Sasa saya menutup tulisan ini dengan ucapan terima kasih yang tulus.
Terima kasih kepada Pak Nasri
Abubakar yang telah memilih untuk hadir bukan hanya sebagai
pejabat, tetapi sebagai sesama manusia yang peka terhadap derita warganya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberi kesehatan, kekuatan, dan keikhlasan kepada Bapak
dalam mengemban amanah sebagai Wakil Wali Kota Ternate. Semoga setiap langkah
pengabdian Pak Nasri Abubakar
dibalas dengan kebaikan yang berlipat, dilindungi dari segala keburukan, dan
selalu diberi kebijaksanaan dalam memimpin. Karena pada akhirnya, yang paling diingat masyarakat bukanlah
jabatan, melainkan kehadiran, kepedulian, dan kasih sayang.**
