LPTNU Indonesia Bangun Jembatan Pendidikan ke Uzbekistan, Siapkan Generasi Berdaya Saing Global

Editor: Admin

Foto istimewa

TASHKENT – Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Indonesia melangkah tegas ke panggung internasional dengan melakukan misi penjajakan kerja sama strategis ke Republik Uzbekistan. Delegasi yang beranggotakan sejumlah rektor perguruan tinggi NU dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk Dr. M. Nasir Tamalene, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) sebagai perwakilan kawasan timur, tiba di Tashkent dengan agenda ambisius: membuka akses dan membentuk kolaborasi pendidikan global.

Delegasi diterima secara langsung oleh Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi strategi diplomasi pendidikan Indonesia di Asia Tengah.

Dalam paparannya, Dr. M. Nasir Tamalene menyoroti visi transformasi kurikulum LPTNU yang berorientasi global. "Masa depan tidak lagi hanya tentang kontribusi lokal. Lulusan kita harus siap berlaga di pentas nasional hingga internasional, dengan Asia Tengah sebagai pintu pertamanya," tegasnya.

Peluang nyata sudah menanti. Menurut rektor, terdapat permintaan riil akan tenaga pendidik Indonesia, khususnya pengajar Sains untuk sekolah-sekolah internasional di Uzbekistan. "Ini pasar terbuka. Namun, kunci utamanya adalah penguasaan bahasa Inggris dan wawasan global yang mumpuni," ujarnya, menekankan bahwa peluang hanya bisa diraih dengan kesiapan sumber daya manusia.

Dubes Siti Ruhaini Dzuhayatin pun mendorong agar LPTNU secara kolektif mempersiapkan calon guru yang kompeten dan berwawasan internasional. "Ini tugas besar yang membutuhkan sinergi seluruh LPTNU di Indonesia," harapnya.

Dr. Nasir mengakui, tantangan terberat justru berada di dalam diri generasi muda. "Peluang itu ada. Namun, apakah kemauan untuk maju, beradaptasi, dan keluar dari zona nyaman kita juga sebesar itu? Itulah pertanyaan sesungguhnya," tandasnya.

Kunjungan bersejarah ini diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan pembuka jalan bagi kerja sama konkret: pertukaran pelajar dan dosen, riset bersama, serta peningkatan mobilitas akademik. Langkah ini memperjelas ambisi LPTNU untuk tak hanya mencetak sarjana tradisional, tetapi juga pionir-pionir global yang mampu bersaing di kancah dunia.**

Share:
Komentar

Berita Terkini