Ingin Matikan Handphone

Editor: Admin

 

Foto istimewa 

Oleh: 

Qenan Rohulla 

Aktivis Muda

Sebuah pertarungan sudah selesai di abad ke 20, memoar seorang sejarawan saat menulis tentang perang besar, perang dunia I dan ke II. Sejarah itu kemudian jadi mineral yang tertimbun ratusan tahun, hingga para penambang menghabiskan uang dan pikiran untuk mencari keaslianya. Kenapa dan siapa yang bertarung, atas dasar apa, justru kejutan itu adalah sumber daya alam. Revolusi adalah kosa-kata yang terdengar menyeramkan bagi yang pernah berlumuran darah demi tanah dan kedaulatan, agar kedepan bisa tumbuh dan mandiri tidak lagi bergantung pada yang lain. Suatu pagi yang cerah terdengar kicauan burung mengukir suara membungkus kebisingan sebuah kota yang dihinggapi manusia yang bekerja seperti mesin.

Meski terdengar seram dan menakutkan, namun kata Revolusi tetap berikan arah baru untuk kemajuan sosial dan ekonomi. Revolusi yang demikian itu yakni revolusi industri. Tentu, anak sekolahan menyebutnya sebuah lompatan produktif, karena sains dan teknologi, lompatan yang terkadang pemuja revolusi industri itu terkungkung ibarat katak dalam tempurung, karena tertutup dimensi akal dan pikiran, hingga mati dalam buah revolusi industri.

Sains seperti kilat menyambar negara-negara maju, seperti Jepang, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat, meski kini disusul Tiongkok memasuki abad 21, itupun terurai konflik tiada henti akibat perang dagang. Semakin sempit dan terbentur jarak tempu di darat maupun laut dan udara, maka para saintific melakukan eksperimen dan memudahkanya. Upaya saintific itu karena masih merasa kurang puas dengan sarana komunikasi dahulu yang dikembangkan sejak zaman kuno, dari lembaran-lembaran tulisan, telegraf, dan telepon (sebelum konversi ke internet). Kini ditemukanlah suatu sarana komunikasi yang kompleks dan mudah untuk menjangkau semua hal, dari kendala jarak, waktu, dan tempat. Istilah itu tersurat dalam suatu tema besar yang kelak disebut "DIGITAL". Komunikasi dilorong teknologi yang tadinya sempit dan terkendala banyak hal, akhirnya terjawab dengan alat modern dan itu adalah internet. Maka berbondong-bondong prodak Hanphone mulai diciptakan. Mulai dari fase Nokia 1112, N19, Sony Errecsion, Samsung, Mito, dengan mode layar hitam putih sampai berawarna. Ekonomi dan politik penyaji menu setiap konsumen yang lapar dan haus dalam lorong sempit teknologi. Para cangkang oligarki dan konglomerat mencoba memakain topeng agar memberi makanan para konsumen, tanpa disadari perampokan hak dan pencipta ketergantungan bagi kaum miskin yang beku pikiranya, hingga siap memakan prodak teknologi yang dikusai para diktator, meski tertipu dengan kemewan sekali pakai besok siap diganti, asalakan punya uang.

Skema pasar bebas yang bebas melibas para konsumen yang rendah pendapatanya, seperti tidak terdidik oleh guru spritual, praktik memuja benda adalah menduakan tuhan bagi mereka yang teguh keimananya kepada tuhan. Ekonom pasar bebas yang bekerja untuk para elit koorporat mendikte kepada semua pengguna Handphone agar tunduk dan patuh kepada sistem perusahan internet, kepatuhan itulah tawaran barang elektronik yang dipoles demi kecantikan uang dan ketampanan keserakahan, akhirnya rela menjual keimananya hanya ingin belanjakan bahan atau prodak yang didesain, sekian merk prodak diganti, mirisnya tidak melunasi hutang keinginan. Pada titik inilah para konsumen yang miskin menjadi terorisme, meneror diri dan orang terdekat demi mendapatkan prodak yang diciptakan oleh diktator teknologi.

Era digital dan melajunya desain sains melahirkan eksperimen teknologi dibidang Artificial Intellegensia ( AI ), dengan mudah merekayasa, menipu, memanipulasi data menceritakan yang sebenarnya, telah menjadi tafsiran yang samar-samar, semakin sulit mendeteksi kebenaran. Para elit dan intelektual menyebut sebagai propaganda alias mempengaruhi seseorang dengan bahasa, tulisan maupun video. Semua aspek disetting dengan merubah bentuk serta maksud dari sesuatu, sehingga dapat merasuki kesadaran berpikir kepada target yang dituju. 

Dalam fase industri 4.0 algoritma menemukan sinyal kontrol yang susah disaingi, multi sektor dikomputerisasi, seolah Fitnah, Kejujuran dan Kebohongan adalah pilihan menu bagi elit korporat teknologi. Tahun ini mungkin pertarungan Android vs HarmoniOS, tentu Handphone kualitas sistem transfer data dan aplikasi akan berubah, namun sasaranya adalah konsumen, apakah konsumen menerima dan puas atau tidak atas prodak tersebut. Kekejaman ini terasa jika para konsumen sadar bahwa mereka adalah obejek akumulasi modal dari prodak yang didesain. Seharusnya konsumen benar-benar punya hak kontrol atas prodak dan harga yang disesuaikan atas pandapatan dan kebutuhan, bukan pada kemauan pasar yang ditekan oleh cangkang pemilik perusahan Handphone.

Dimensi lain, dengan berita-berita dengan berbagai judul, korupsi, pembuuuhan, perang, hiburan, penipuan, pencurian, pertarungan kekuasaan, seks, hiburan, dan pemasaran ditonton oleh jutaan konsumen tanpa mengenal batas usia dan kedewasaan Intelektual Question (IQ). Berita-berita ini disajikan dalam satu kali 24 jam non stop, bahkan konsumenya rela bergadang asal semua bisa tertonton.

Jenjang terburuk, semua aplikasi dalam sistem android mereduksi anak dibawah umur, terkadang usia yang masih menyusui terdengar music rock nd roll ditelinga si kecil, ledakan nuklir sekelas yang diterbangkan jet tempur oleh Israel ke Lebanon, terdengar sampai telinga anak sekolah SD, akhirnya anak dibawah umur pun bingung dengan polarisasi ruang hidup yang kompleks, akan lebih tragis apabila menonton Matrix yang diperankan John Wick, seorang aktor Hollywood, mereka mempraktikan saat bermain bersama teman sebaya. Tetapi lupa Hollywood adalh lembaga perfiliman dibawah kontrol CIA atau lembaga inteligen luar negeri Amerika Serikat.

Pemuka agama yang suci sekalipun akan tenggelam dalam ingatan drama Titanic yang dikisahkan percintaan antara Jack dan Rose, adegan mesum yang memikat kesadaran akhirnya menjurus ke semua aplikasi yang tersedia dalam Handphone dengan sistem android.

M.G Harris, penulis novel, Apocalypsi Moon, Ice Shock, Invesible City, Dark Pararel, pernah membuka wacana yang futuris, dilembaran utama novel yang judulnya Apocalypsi Moon, bahwa semua kehidupan akan terkomputerisasi, akan tetapi ketika bencana listrik besar-besaran, maka anda tidak akan bisa ke tempat swalayan, atm, ke kantor, dan pesan makan atau minuman, jikalau hal itu terjadi, maka anda tidak bisa lari terkecuali jalan satu-satunya adalah "Terlibat".

Tetapi sudah 80 persen mendekati titik klimaks dunia terkomputerisai, setiap individu merasa sangat ketergantungan dengan Handphone Android. Sedetik jika tidak menyentuhnya seperti kembali ke zaman Neolitikum dan Megalitikum, zaman yang dikenal sebagai zaman batu dan zaman logam. Semua manusia yang hidup di zaman itu, buta informasi dari jarak yang jauh, seperti dunia hanya sebesar tong sampah. Rasa frustasi, stres, bingung, sontak seperti zombi.

Keinginan untuk mematikan Handphone karena tidak mau tersandera oleh sekian informasi yang palsu serta propagandis, namun sudah semakin sulit, sebab dunia punya kenyataan. (*

Share:
Komentar

Berita Terkini