![]() |
| Foto istimewa |
Oleh:
Irfan Soekoenay
Anggota DPRD Fraksi PKB
Setiap tanggal 29 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Peringatan ini bukan sekadar catatan tanggal di kalender atau seremonial belaka, melainkan momen sakral untuk merenung, mengevaluasi, dan meneguhkan kembali komitmen kita sebagai anak bangsa terhadap para generasi pendahulu. Di balik keriput di wajah, langkah yang mulai melambat, dan ingatan yang kadang memudar, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan kearifan yang menjadi fondasi kokoh tempat kita berpijak dan menikmati kemerdekaan serta kemajuan hari ini.
Para lanjut usia adalah saksi sejarah. Mereka adalah generasi yang melewati masa sulit, berjuang mempertahankan kemerdekaan, membangun negeri dari nol, dan menanamkan nilai-nilai luhur persatuan di tengah keberagaman. Dulu, mereka adalah tulang punggung keluarga, penggerak ekonomi, pemimpin masyarakat, dan pelindung budaya. Keringat, pikiran, dan tenaga yang mereka curahkan menjadi benih yang kini kita petik hasilnya. Tanpa peran dan pengorbanan mereka, mustahil Indonesia bisa berdiri tegap dan berkembang seperti sekarang. Oleh karena itu, menempatkan mereka dengan hormat, menjaga kesejahteraan, dan merawat mereka dengan kasih sayang bukanlah sekadar kebaikan hati, melainkan utang budi dan kewajiban moral seluruh elemen bangsa.
Refleksi mendalam yang harus kita renungkan adalah bagaimana kita memperlakukan mereka saat ini. Seiring bertambahnya usia, kekuatan fisik menurun, produktivitas berkurang, dan ketergantungan pada orang lain meningkat. Di sinilah ujian sesungguhnya dari karakter bangsa kita. Apakah kita masih memandang mereka sebagai orang tua yang mulia dan berharga, atau mulai menganggap mereka sebagai beban yang merepotkan? Apakah kehadiran mereka masih dinanti dan didengarkan, atau justru disisihkan karena dianggap tidak lagi mengerti zaman?
Di tengah derasnya arus modernisasi, perubahan gaya hidup, dan tuntutan kehidupan yang semakin cepat, budaya saling merawat dan menghormati orang tua sering kali tergerus. Pola keluarga besar yang dulu hidup bersama, saling berbagi dan mengasihi, kini mulai bergeser menjadi keluarga inti yang masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Banyak lansia yang ditinggal sendirian di rumah, kurang perhatian, bahkan ada yang terabaikan secara ekonomi dan kesehatan. Padahal, nilai-nilai luhur budaya Indonesia mengajarkan bahwa merawat orang tua adalah kemuliaan, bakti tertinggi, dan kunci keberkahan hidup.
Hari Lanjut Usia Nasional mengingatkan kita bahwa menua adalah hakikat alami kehidupan. Tidak ada manusia yang abadi muda. Apa yang kita lakukan dan bagaimana kita memperlakukan para lansia hari ini adalah cerminan dan persiapan bagaimana masyarakat nanti akan memperlakukan kita saat memasuki masa tua. Mengabaikan mereka sama saja dengan merusak masa depan kita sendiri. Sebaliknya, menghormati, merawat, dan menjamin kesejahteraan mereka adalah bukti kemanusiaan yang beradab dan bukti bahwa bangsa ini tidak pernah melupakan sejarahnya.
Pemerintah telah menetapkan undang-undang dan kebijakan perlindungan lansia, namun aturan saja tidak cukup. Perubahan nyata harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Kasih sayang, waktu luang untuk berbicara, mendengarkan kisah mereka, dan memastikan kebutuhan dasar serta kesehatan mereka terpenuhi adalah bakti yang tak ternilai harganya. Selain itu, masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang ramah lansia—aman, mudah diakses, dan inklusif—serta tetap melibatkan mereka dalam kegiatan sosial agar mereka merasa berharga, dibutuhkan, dan tidak kesepian.
Lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, para lansia adalah gudang ilmu dan kearifan. Pengalaman hidup, pengetahuan sejarah, dan nilai-nilai moral yang mereka miliki adalah harta karun yang harus ditransformasikan kepada generasi muda. Di saat nilai-nilai mulai luntur dan banyak tantangan zaman yang membingungkan, nasihat serta pandangan hidup para orang tua justru menjadi penyeimbang dan penunjuk arah yang sangat berharga. Kehadiran mereka di tengah keluarga dan masyarakat memberikan keteduhan, kedamaian, dan pengingat akan jati diri bangsa.
Pada peringatan ini, mari kita buang jauh-jauh anggapan bahwa lansia adalah kelompok yang tidak berguna. Mari kita ubah pandangan menjadi pemahaman bahwa mereka adalah aset bangsa yang harus dijaga kehormatannya. Negara bertanggung jawab menjamin hak-hak mereka, masyarakat bertanggung jawab menciptakan suasana yang mendukung, dan keluarga bertanggung jawab memberikan kasih sayang tulus.
Hari Lanjut Usia Nasional bukan sekadar hari perayaan, melainkan hari untuk berjanji. Berjanji untuk lebih peduli, lebih sabar, dan lebih menyayangi mereka. Mari kita pastikan bahwa sisa usia mereka dihabiskan dalam kebahagiaan, kemuliaan, dan damai, sama seperti mereka dulu merawat, membesarkan, dan membangun negeri ini dengan penuh pengorbanan. Karena dengan menghormati dan merawat para lansia, sesungguhnya kita sedang merawat identitas bangsa, menjaga peradaban, dan memuliakan masa depan kita sendiri.
Harapannya ke depan pemerintah daerah harus membuat perda tentang perlindungan penyandang disabilitas dan mereka yang lanjut usia agar mereka bisa terlindungi terutama di tempat-tempat umum.
