Efek MBG, Pertanian Malut Tumbuh

Editor: Admin

Ekonomi Maluku Utara Mulai Lepas dari Bayang-Bayang Tambang, MBG Dinilai Jadi Pendorong Pertumbuhan Pertanian

Foto Istimewah

Ternate – Dominasi sektor pertambangan terhadap perekonomian Maluku Utara yang menguat sejak 2021 mulai menunjukkan tanda-tanda penyeimbangan. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara Triwulan I Tahun 2026 memperlihatkan tren pertumbuhan yang semakin beragam, dengan sektor pertanian mulai memberikan kontribusi positif di tengah masih kuatnya industri pengolahan dan pertambangan.

Ekonom Maluku Utara, Mukhtar Adam, menilai perkembangan tersebut sebagai sinyal penting bagi upaya memperkuat struktur ekonomi daerah yang selama ini sangat bergantung pada hilirisasi nikel dan aktivitas pertambangan.

“Sejak 2021 pertumbuhan ekonomi Maluku Utara memang didominasi sektor tambang. Namun pada Triwulan I 2026 kita melihat arah yang mulai membaik. Kontribusi sektor pertanian menunjukkan tren positif, dan ini sejalan dengan kebijakan nasional seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memperkuat konsumsi lokal,” ujar Mukhtar.

Berdasarkan data PDRB Triwulan I-2026, ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64 persen, salah satu yang tertinggi secara nasional. Meski industri pengolahan masih menjadi motor utama dengan pertumbuhan mencapai 37,09 persen, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,24 persen.

Menurut Mukhtar, program MBG memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dibanding sekadar pemenuhan gizi masyarakat. Program tersebut menciptakan permintaan baru terhadap berbagai komoditas pangan lokal yang diproduksi petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil di daerah.

“MBG menciptakan efek berantai pada rantai pasok pangan lokal. Permintaan bahan pangan meningkat, harga di tingkat petani menjadi lebih stabil, dan perputaran uang tidak hanya terpusat di kawasan tambang atau kota-kota besar,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga yang dipicu oleh berbagai program pemerintah pusat turut memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat. Dampaknya terlihat dari mulai tumbuhnya aktivitas ekonomi di sektor-sektor yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti pertanian, perdagangan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Ini sinyal yang sangat baik. Jika sektor pertanian terus diperkuat dan konsumsi lokal tetap terjaga, maka pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tidak lagi hanya diukur dari tonase nikel yang diproduksi, tetapi juga dari meningkatnya daya beli dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Meski demikian, Mukhtar mengingatkan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat dukungan terhadap sektor pertanian, perikanan, koperasi, dan UMKM agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor ekstraktif.

“Ketergantungan yang terlalu besar pada komoditas tambang membuat ekonomi rentan terhadap gejolak harga global. Karena itu, diversifikasi ekonomi harus menjadi agenda utama. Pertanian dan UMKM harus mendapat perhatian lebih agar pertumbuhan ekonomi Maluku Utara menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan tidak mudah terguncang ketika harga komoditas tambang turun,” tegasnya.

Dengan mulai menguatnya sektor-sektor produktif di luar pertambangan, Maluku Utara dinilai memiliki peluang besar untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih seimbang, di mana pertumbuhan tidak hanya ditopang oleh investasi besar di sektor nikel, tetapi juga oleh aktivitas ekonomi rakyat yang tersebar hingga ke desa-desa.

Share:
Komentar

Berita Terkini