Di Balik Pertumbuhan 32,09%, Warga Maluku Utara Masih Berjuang untuk Sejahtera

Editor: Admin

 

Kehidupan masyarakat Maluku Utara di tengah derasnya arus investasi hilirisasi mineral

Halmahera Tengah — Di sebuah desa pesisir tak jauh dari kawasan industri Weda Bay, Abdul Rahman (46), seorang nelayan, sedang memperbaiki jaring di depan rumah kayunya. Sore itu, ombak tenang. Namun ia mengaku hasil tangkapannya tak lagi seperti dulu.

“Dulu, sekali melaut bisa bawa pulang 20 sampai 30 kilogram ikan. Sekarang kadang cuma dapat 5 kilogram,” keluhnya. Menurut Abdul, perubahan lingkungan di perairan sekitar membuat hasil laut berkurang, sementara biaya melaut terus naik.

Cerita Abdul hanyalah satu potret dari kehidupan masyarakat Maluku Utara di tengah derasnya arus investasi hilirisasi mineral. BPS mencatat, ekonomi Malut tumbuh spektakuler 32,09 persen (yoy) pada Triwulan II-2025, tertinggi di Indonesia. Namun, angka itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan warga.

Ketimpangan nyata di lapangan

Di sekitar kawasan industri, jalan raya baru, perumahan karyawan, dan truk tambang yang hilir mudik menandai geliat ekonomi. Tetapi di kampung-kampung sekitarnya, banyak keluarga masih hidup sederhana, dengan pendapatan pas-pasan.

Siti Maryam (38), seorang ibu rumah tangga di Halmahera Timur, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari meski suaminya bekerja sebagai buruh lepas di proyek tambang. “Gajinya tidak tetap. Kalau ada panggilan kerja baru masuk. Kadang kami harus berutang di warung,” katanya.

Tantangan sosial yang tertinggal

Meski investasi di kawasan industri disebut sudah mencapai Rp240 triliun, sebagian besar tenaga kerja lokal belum terserap secara layak. Tingkat kemiskinan di beberapa kabupaten masih di atas rata-rata nasional, dan fasilitas pendidikan maupun kesehatan belum merata di pulau-pulau kecil.

Menurut pengamat, ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup warga akan menjadi bom waktu jika tidak segera diatasi. “Pertumbuhan tinggi, tapi kalau nelayan, petani, dan buruh tetap miskin, maka ada yang salah dengan distribusi manfaatnya,” ujar seorang akademisi Universitas Khairun Ternate.

Harapan ke depan

Meski menghadapi banyak tantangan, masyarakat Maluku Utara masih menyimpan harapan. Abdul Rahman berharap suatu saat anak-anaknya bisa bekerja di sektor industri dengan gaji lebih baik. “Biar tidak ikut jadi nelayan susah seperti bapaknya,” ujarnya sambil tersenyum pahit.

Di balik kilau pertumbuhan ekonomi 32,09 persen, kisah-kisah seperti Abdul dan Maryam menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati bukan sekadar angka, tetapi tentang bagaimana setiap warga bisa hidup lebih sejahtera di tanahnya sendiri.

 

Share:
Komentar

Berita Terkini