UNUSIA DAN ENERGI MUDA

Editor: Admin

Aras Prabowo Calon Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Foto Aras Prabowo Calon Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia 

Oleh

Gamal Marinyo, M.Pd

Mahasiswa Program Doktoral Universitas K.H Abdul Chalim Mojokerto Dan Anggota Gerakan Pemuda Ansor Maluku Utara 

Di tengah dinamika pendidikan tinggi Indonesia yang terus berubah dan menuntut kepemimpinan yang visioner, muncul sosok akademisi muda yang menggabungkan ketekunan ilmiah, pengalaman organisasi yang luas, serta komitmen kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Sosok itu adalah Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak.—seorang putra Bone yang sejak awal menapaki jalan panjang dunia pendidikan dengan dedikasi yang tidak setengah hati. Lahir pada 9 September 1993, ia menunjukkan bahwa keunggulan akademik tidak pernah mengenal batas usia; yang dibutuhkan adalah visi, kerja keras, dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Jejak pendidikannya menjadi fondasi kuat bagi cara pandangnya sebagai akademisi. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Bone, ia merantau untuk menempuh jenjang sarjana di Universitas Muslim Indonesia dan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Pendidikan magisternya di Universitas Mercu Buana Jakarta juga diselesaikan dengan hasil serupa. Langkah akademik itu berpuncak pada gelar doktor dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, yang ia raih dengan predikat cumlaude—sebuah capaian yang menegaskan konsistensinya dalam menempuh jalur akademik yang serius dan penuh integritas.

Dalam perjalanan kariernya, Dr. Aras bukan hanya hadir sebagai akademisi, tetapi juga sebagai penggerak pengembangan perguruan tinggi. Selama sembilan tahun ia mengabdi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), mengemban amanah sebagai Kaprodi Akuntansi sekaligus dosen tetap. Pengalaman panjang itu memberinya pengetahuan yang utuh tentang denyut kerja perguruan tinggi, mulai dari manajemen kurikulum, tata kelola prodi, penguatan akreditasi, hingga dinamika tri dharma perguruan tinggi. Pada saat yang sama, ia memperluas kiprahnya melalui amanah sebagai Kepala Divisi Keuangan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal, sebuah posisi strategis yang mengasah kepemimpinan serta tanggung jawabnya dalam tata kelola keuangan lembaga keagamaan berskala nasional.

Sebelum itu, ia juga bertugas selama enam tahun di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada bagian perencanaan program dan keuangan. Pengalaman ini mengukuhkan kemampuannya dalam manajemen publik, penyusunan program, dan verifikasi anggaran—sebuah kecakapan yang makin relevan dalam tata kelola perguruan tinggi modern.

Wawasan akademiknya yang luas tidak berhenti pada kegiatan mengajar dan mengelola institusi. Dr. Aras dikenal sebagai salah satu akademisi muda yang produktif di bidang riset. Ratusan publikasi telah ia hasilkan—dari jurnal nasional, jurnal internasional, buku, hingga artikel opini yang diterbitkan di berbagai media nasional. Karyanya membentang dari topik akuntansi spiritual, etika profesi berbasis budaya Nusantara, good governance, akuntansi sektor publik, hingga pembangunan ekonomi dan sosial. Ia juga memperkenalkan gagasan besar yang menjadi ciri khas pemikirannya: integrasi ilmu akuntansi dengan kearifan budaya lokal, sebuah pendekatan yang tidak hanya relevan tetapi juga memperkaya lanskap keilmuan akuntansi Indonesia.

Kiprahnya di berbagai organisasi memperkuat reputasinya sebagai pemimpin muda NU yang matang. Ia pernah mengemban amanah di Pengurus Pusat IKA PMII, Ansor, hingga ISNU. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, ia aktif mengembangkan kaderisasi, merumuskan kebijakan publik, serta menggerakkan komunitas intelektual muda di lingkungan Nahdlatul Ulama. Jaringan yang luas di internal NU, ditambah pengalamannya berdialog dengan banyak lembaga negara, menjadikannya jembatan antara dunia akademik dan ruang kebijakan publik.

Prestasinya mendapatkan pengakuan dari berbagai lembaga. Ia meraih Best Paper dari ICALS, penghargaan dari MAMI, serta penghargaan sebagai wisudawan terbaik pada masa studinya. Deretan prestasi itu bukan sekadar dekorasi; semuanya lahir dari kedisiplinan dan kerja ilmiah yang ia jalankan dengan serius.

Melihat perjalanan panjang itu, tampak jelas bahwa Dr. Muhammad Aras Prabowo bukan hanya akademisi yang tekun, atau organisatoris yang aktif, melainkan sosok yang mengerti betul bagaimana perguruan tinggi bekerja, bagaimana ia harus ditata, bagaimana ia harus bergerak di tengah tantangan zaman. Ia mewakili generasi baru kepemimpinan: energik, terdidik, adaptif, dan memiliki akar kuat di kultur keilmuan Nahdlatul Ulama.

Jika UNUSIA ingin melangkah menuju fase baru—lebih progresif, lebih berdaya saing, dan lebih berdampak bagi umat dan bangsa—maka sosok seperti Dr. Aras hadir sebagai jawaban yang layak dipertimbangkan. Pengalamannya yang menyeluruh dari ruang kelas, ruang riset, ruang organisasi, hingga ruang kebijakan publik memberi modal kuat untuk memimpin universitas ini ke masa depan yang lebih cerah.

Narasi hidupnya adalah bukti bahwa kerja keras dan integritas dapat membawa seseorang dari kelas-kelas sederhana di Bone menuju pusat-pusat pengambilan keputusan di Jakarta, sembari tetap memegang nilai-nilai Aswaja sebagai kompas moral. Dari perjalanan itu lahirlah keyakinan bahwa ia siap mengemban amanah lebih besar—menguatkan UNUSIA, mengangkat mutu akademik, memperluas jejaring, serta menghadirkan perguruan tinggi yang benar-benar menjadi rumah keilmuan warga Nahdlatul Ulama.

UNUSIA membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu membaca tantangan, tetapi juga berani merumuskannya menjadi peluang. Dan dari jejak panjang Dr. Muhammad Aras Prabowo, terlihat jelas seorang calon rektor yang tumbuh dari proses yang matang, bergerak dengan visi, dan bekerja dengan etos keilmuan yang teguh.

Share:
Komentar

Berita Terkini