Addin Jauharudin dan Arah Baru Kepemimpinan GP Ansor

Editor: Admin

 


Irfandi R. Hi Mustafa

Wakil Sekretaris PW GP. Ansor Maluku Utara

Gerakan Pemuda Ansor selalu berada di persimpangan penting sejarah Indonesia. Ansor bukan sekadar badan otonom Nahdlatul Ulama yang menghimpun kaum muda, melainkan ruang strategis kaderisasi nilai keislaman, kebangsaan, dan kepemimpinan sosial. Dalam konteks itulah, kepemimpinan Addin Jauharudin menemukan momentumnya, terutama melalui gagasan besar yang dirumuskan dalam Misi BISA (Bisnis, Inovasi, Sumber Daya Manusia, dan Anak Muda) sebagai arah baru pergerakan Ansor.

Perubahan zaman menuntut organisasi kepemudaan untuk melampaui pola lama. Tantangan hari ini tidak lagi sebatas ideologi dan identitas, tetapi juga soal ekonomi, inovasi, kualitas sumber daya manusia, dan daya tarik organisasi bagi generasi muda. Kepemimpinan Ansor tidak cukup hanya menjaga nilai, tetapi harus memastikan kader mampu hidup layak, relevan secara sosial, dan berdaya saing. Di titik inilah Misi BISA menjadi penting sebagai kerangka strategis.

BISA bukan sekadar jargon programatik. Tetapi juga mencerminkan kesadaran bahwa kekuatan ideologis Ansor harus ditopang oleh kemandirian ekonomi dan kapasitas profesional kader. Addin membaca dengan jernih bahwa militansi tanpa kesejahteraan akan rapuh, dan idealisme tanpa inovasi akan tertinggal.

Pada elemen Bisnis (Ekonomi), kepemimpinan Addin menegaskan kembali pentingnya kemandirian ekonomi kader dan organisasi. Melalui penguatan kewirausahaan, koperasi, dan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA), Ansor diarahkan tidak hanya sebagai organisasi penggerak massa, tetapi juga sebagai ekosistem ekonomi. Upaya menciptakan lapangan kerja dan usaha strategis ini menempatkan kader sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek mobilisasi.

Pendekatan ini menandai pergeseran penting bahwa Ansor tidak lagi hanya hadir saat krisis, tetapi juga bekerja sebelum krisis datang. Kesejahteraan kader diposisikan sebagai bagian dari penguatan organisasi dan ketahanan kebangsaan. Dalam jangka panjang, fondasi ekonomi ini menjadi prasyarat agar Ansor tetap independen dan berdaulat dalam mengambil sikap.

Elemen kedua, Inovasi (Teknologi dan Media), menunjukkan kesadaran bahwa ruang digital kini menjadi medan utama pembentukan opini dan pengaruh sosial. Kepemimpinan Addin mendorong kader untuk kreatif, adaptif, dan inovatif dalam teknologi serta media digital. Ansor tidak boleh tertinggal dalam arus informasi yang serba cepat dan kompetitif.

Lebih dari itu, Ansor diarahkan menjadi pusat informasi dan jejaring peluang usaha antarkader, sekaligus jembatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Inovasi tidak dimaknai semata sebagai teknologi, tetapi sebagai cara berpikir baru dalam mengelola organisasi dan membaca peluang zaman.

Elemen Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi jantung dari arah baru kepemimpinan ini. Kaderisasi tidak lagi cukup berbasis loyalitas struktural, tetapi harus diperkuat dengan peningkatan kapasitas, profesionalisme, dan karakter. Pelatihan, pengembangan kompetensi, serta kaderisasi berbasis profesi dokter, insinyur, pendidik, pengusaha menjadi strategi untuk mendistribusikan kader Ansor ke lini-lini strategis bangsa.

Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa Ansor tidak alergi terhadap profesionalisme. Justru sebaliknya, profesionalisme adalah medium baru untuk mengabdi. Kader yang cerdas, terampil, dan berkarakter adalah aset utama organisasi dalam menghadapi Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, elemen Anak Muda (Pemuda) menegaskan posisi Ansor sebagai rumah besar bagi pemuda progresif. Kepemimpinan Addin berupaya menjadikan Ansor inklusif, terbuka, dan relevan bagi generasi muda yang kritis, cair identitasnya, dan haus makna. Ansor tidak boleh terjebak menjadi organisasi yang menua secara kultural, meskipun muda secara usia.

Pemberdayaan pemuda dengan semangat optimisme menjadi kunci. Ansor didorong hadir sebagai ruang tumbuh, bukan sekadar ruang instruksi. Di sinilah Ansor diuji: mampu atau tidak mengelola energi anak muda menjadi kekuatan sosial yang konstruktif bagi bangsa.

Keseluruhan BISA diarahkan pada tujuan jangka panjang yang mendukung visi Indonesia Emas 2045. Melalui kaderisasi strategis, internalisasi nilai Aswaja dan kebangsaan, serta kolaborasi lintas sektor—dengan dunia usaha, pemerintah, dan sektor swasta, Ansor ditempatkan sebagai mitra aktif pembangunan nasional.

Arah baru kepemimpinan GP Ansor di bawah Addin Jauharudin, dengan demikian bukan sekadar soal pergantian figur, melainkan perubahan paradigma. Dari organisasi reaktif menjadi proaktif, dari simbolik menjadi substantif, dari sekadar menjaga warisan menjadi menyiapkan masa depan.

Sejarah akan menilai sejauh mana Ansor dibawah dengan misi BISA mampu diwujudkan secara konsisten. Namun satu hal jelas, kepemimpinan Addin telah meletakkan fondasi bahwa Ansor harus berdaya, inovatif, mandiri secara ekonomi, dan tetap teguh menjaga nilai Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah serta keutuhan NKRI. Di tengah tantangan zaman yang kompleks, arah baru ini bukan hanya relevan tetapi niscaya.

Share:
Komentar

Berita Terkini