![]() |
| foto istimewah |
Oleh:
Fahrul Abd Muid
Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
Ternyata pikiran kita bisa menciptakan
realitas-kenyataan. Hal inilah yang selalu dilakukan oleh Gubernur dalam gaya
kepemimpinannya. Bahwa pikiran bisa menentukan perilaku saya, anda dan kita
semua. Gubernur tidak bisa berpikir siapa itu Gubernur, tetapi Gubernur
bergantung pada apa yang Gubernur pikirkan tentang diri Gubernur. Gubernur itu
ada, karena diadakan oleh Tuhan melalui rakyatnya. Maka dalam pikiran Gubernur
hanyalah memikirkan tentang kepentingan rakyatnya, dan Gubernur pasti berbuat
yang terbaik untuk rakyatnya. Gubernur ingin mengajarkan kepada saya, anda dan
kita semua untuk berpikir yang positif dalam diri-husnunzhan-positive thinking.
Karena Gubernur sudah selesai dengan dirinya sendiri yang selalu saja positive
thinking. Gubernur bilang, jika anda berpikir bahwa anda bodoh, anda pasti
bodoh. Kalau anda berpikir bahwa anda tidak disukai banyak orang, anda pasti
akan dibenci orang banyak. Bila anda berpikir bahwa anda seorang pecundang,
anda akan betul-betul menjadi pecundang. Teori ini sudah lama diketahui oleh
para psikolog. Mereka menyebutnya dengan konsep diri. Konsep diri kita akan
mempengaruhi siapa diri kita kawan!
Dengan
demikian, kalau anda berpikir bahwa anda tidak disukai orang banyak dan yang
anda lakukan selalu gagal, maka Insya Allah, semua itu akan terwujud dalam
kenyataan. Anda tidak akan mampu, gagal, dan tidak disukai orang banyak. Dalam sebuah
buku yang berjudul ‘Beyond Psychology’ yang ditulis oleh Osho seorang guru
spritual dari India, menyatakan bahwa kita tidak saja bisa menentukan perilaku
kita dengan pikiran kita, tetapi kita juga bisa menciptakan berbagai peristiwa
di alam sekitar kita dengan pikiran kita sendiri. Hal ini merupakan sesuatu
yang ‘Beyond Psychology’ bahwa kita mewujudkan setiap kejadian menurut kekuatan
pikiran kita sendiri, bukan dengan pikiran orang lain. Ada
hal yang menarik pada bagian ujung buku ini bersifat sangat sufistik. Menurut
buku ini, ada beberapa prinsip. Pertama, kita adalah teman Sang Pencipta-We are
co-creators. Kita menciptakan kejadian di alam semesta ini bersama Tuhan.
Kedua, kita berkolaborasi dengan Tuhan untuk menciptakan berbagai peristiwa
yang kita kehendaki. Kita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan adalah Zat yang
sangat jauh dari kita, tapi kita harus memikirkan diri kita sebagai manifestasi
Tuhan-God as me, Tuhan sebagai aku.
Dalam tasawuf, ada
paham yang kita kenal dengan ‘Wahdatul Wujud’-kesatuan wujud, kehendak
seseorang itu bersatu dengan kehendak Tuhan, sehingga pada tingkat tertentu
dalam pengalaman ruhani yang sangat tinggi, yakni paling ujung dari seluruh
perjalanan sufi, manusia tidak lagi bisa membedakan mana dirinya dan mana
Tuhan. Kekuatan yang berbeda itu disebut Quwwat al-tamyiz-kekuatan untuk
membeda-bedakan. Konon, kekuatan yang membedakan itu adalah kekuatan akal. Pada
ujung perjalanan itu, kekuatan akal tidak berfungsi lagi. Karena itu, tidak bisa
lagi kita bedakan antara Khalik dan makhluk, antara Tuhan dengan aku. Pada
tingkat itu, zikir kita berubah menjadi, Laa Ilaaha Illa ana, tiada Tuhan
kecuali Aku. Kemudian, dalam perjalanan tasawuf, zikir menunjukkan maqam-maqam
yang harus dilalui oleh kita. Zikir yang paling elementer adalah: Laa Ilaaha
Ilallah atau Laa Ilaaha Illa huwa, Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Kita menyebut
Tuhan sebagai orang ketiga tunggal. Dalam bahasa Arab, hal ini disebut dhamir
ghaib. Dalam zikir ini, Tuhan itu ghaib, jauh dari kita. Ketika sudah lebih
dekat, zikir itu menjadi, Laa Ilaaha illa Anta, tidak ada Tuhan kecuali Engkau.
Model zikir para Nabi yang digambarkan dalam Al-Qur’an, Laa Ilaaha Illa Anta
subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimin, Tuhan menjadi akrab. Dia hadir di
hadapan kita, bukan lagi sebagai dhamir ghaib, tetapi sebagai dhamir mukhathab,
orang yang kita ajak bicara.
Lalu, kalau kita sudah
dekat sekali dengan Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa, maka kita seperti yang
digambarkan oleh Ibnu ‘Arabi. Kalau kita seperti cahaya lilin-lilin kecil dan
sumber cahayanya adalah matahari, maka cahaya lilin-lilin kecil itu akan
hilang, yang ada hanyalah cahaya matahari saja. Lenyaplah cahaya lilin itu,
sehingga kita tidak bisa membedakan lagi mana cahaya lilin dan cahaya matahari,
karena antara cahaya lilin dan matahari itu sudah menyatu dalam kesatuan
cahaya. Oleh karena itu, salah satu bagian kecil dari tajalli Tuhan di muka
bumi ini dengan mengadakan manusia sebagai khalifatun fi al-ardhi. Karena Tuhan
menciptakan berbagai kejadian di alam semesta ini melalui pikiran kita,
sehingga realitas yang di sekitar kita dibentuk oleh pikiran kita. Oleh karena
itu, kita bertanggungjawab atas terbentuknya berbagai peristiwa di sekitar
kita. Dengan kemampuan kita untuk menggabungkan diri kita dengan Allah Swt
Tuhan Yang Maha Kuasa lewat pikiran-pikiran kita. Itulah yang dalam Hadis Qudsi
disebutkan dengan ungkapan, Anaa ‘inda dhannii ‘abdibii, Aku sesuai dengan
pikiran hamba-Ku tentang-Ku. Jadi, apa yang dilakukan Allah Swt Tuhan Yang Maha
Kuasa kepada seorang hamba-Nya sesuai dengan pikiran hamba itu kepada-Nya.
Kalau Hadis itu kita terjemahkan lewat perspektif buku ‘Beyond Psychology’ ini,
maka Tuhan menciptakan berbagai peristiwa di alam semesta ini melalui
pikiran-pikiran kita, dugaan-dugaan kita, atau apa yang tersirat dalam benak
kita. Jangan sampai kita tidak sadar diri bahwa kita sedang memelihara
pikiran-pikiran negatif kita sendiri.
Oleh karena itu, jangan
biarkan orang-orang di sekitar Gubernur untuk mempengaruhi Gubernur dengan
pikiran-pikiran negatifnya. Karena, jika terpengaruhi, maka Gubernur akan
menciptakan peristiwa-peristiwa yang negatif pula dalam kebijakannya. Jika
Gubernur terpengaruh oleh pikiran-pikiran negatif orang lain, Gubernur sendiri
yang akan menuai-panen yang sama sekali tidak menguntungkan. Jika ada orang
yang berpandangan negatif, janganlah diterima oleh Gubernur. Biarkan dia
membangun realitas negatif yang ia kehendaki dan jangan pakai orang itu.
Gubernur tidak perlu ikut-ikutan membuat realitas yang negatif. Sebaiknya
bayangkan pikiran-pikiran yang positif. Sebab, itu akan menjadi kenyataan-it
will happen. Dengan berpikir positif, Gubernur pasti menciptakan peristiwa
besar yang positif untuk rakyatnya. Semoga Tuhan melindungi Gubernur dari
pikiran-pikiran negatif. Wallahu ‘alam bishshawab.
.jpeg)