![]() |
| Foto istimewa |
Oleh:
Yusri A. Boko
26 Ramadhan 1447 H. Begini nostalgianya, minggu malam senin 15 Maret 2026, berkisar 8: 30 WIT, saya diajak oleh salah satu kawan. Kita ketemu Bang Handi di Kalumata ngobrol-ngobrol yuk? Oh, teman kamu itu ya. Sahutku.
Dalam perjalanan, kami mampir di kedai untuk beli coffe dan beberapa bungkus rokok, pesanan beliau. Saya pikir posisi saya sebagai orang asing di antara ngobrolnya bang Handi dan kawan ku. Ternyata tidak, beliau sangat komunikatif. Ya, dia vokal dan public speaking nya bagus.
Kami bertukar informasi tentang identitas, dari sini saya mengetahui nama lengkap beliau, Handi Andrian, asal Aceh dan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM). Adapun cerita dibalik kedekatan beliau dengan organisasi kepemudaan, beberapa jurnalis senior, politisi, birokrat dan akademisi di Ternate. Karena dari habitus jurnalis, ia pernah membuat pelatihan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Ternate, Maluku Utara.
Ketenangan beliau membayangkan saya pada sosok Gubernur Aceh, Mualem. Bahasa yang lembut tapi ada ketegasan, ada kedalaman pengetahuan dan sikap menghargai setiap lawan bicara.
Ditengah asiknya ngobrol, ia mengambil satu buku, wao ternyata buku yang ia tulis sendiri. "Teknik Menghadapi Media" dan diberikan ke saya, sambil meneguk coffe dingin, saya berkata bang kalau di dunia akademik cum (nilainya) tinggi kalau menulis buku. Beliau senyum dan bilang, ah itu iseng-iseng aja.
Ia memilik pandangan yang luar biasa luas, terutama di bidang kehumasan, jurnalistik dan pemberdayaan. Ia melanjutkan ngobrol bahwa masih ada satu naskah yang belum di publish. Saya menyahut dalam hati, mengerut kening dan berkata dalam hati "orang ini luar biasa". Memang kadang jabatan dan profesi tidak menentukan power "literacy" seseorang. Akademisi belum tentu menulis buku ditengah kesibukan antara mengajar dan aktivitas rumah tangga.
Orang semacam ini, memang jarang kita temui atau temukan. Di Ternate, kita kenal bang Asgar Saleh, politisi dan pemerhati sosial, Salim Taib, politisi dan pemerhati sosial, dan bang Opik ASN di Kabupaten Morotai, mereka bukan orang kampus, namun membaca dan menulis patut diacungi jempol. Hari ini saya menemukan bang Handi, seorang pekerja humas di salah satu industri besar Maluku Utara. Jadwal yang padat, bolak balik Obi,--Ternate--Jakarta dan mengatur roadmap petinggi perusahaan tapi masih bisa meluangkan waktunya untuk menulis buku.
Bagi saya, ini bagian dari pernyataan Michel Focault bahwa "pengetahuan adalah kekuasaan" (knowledge is power). Kata lain ialah pengetahuan dapat dipakai untuk mengontrol, mempengaruhi individu, dan mereka yang memiliki pengetahuan, yang berkuasa. Bang Handi, ternyata dari 9 Kabupaten/kota di Maluku Utara sebagian besar sudah ia kunjungi. Itu artinya ia bukan orang baru di Malut. Ia sangat paham tentang politik anggaran dan alur dibalik dana bagi hasil (DBH) di Kabupaten/kota di Maluku Utara.
Hàndi pada prinsipnya ialah seorang komunikator yang luas pengalaman. Dan terbuka bagi siapa saja. Ia dapat membaca siapa mitra diskusi (mitra tutur), dan tema apa yang harus dibicarakan. Itulah jurnalis. Dan ia memang dibesarkan dalam lingkungan berita, polemik dan konflik, Media Indonesia.
Handi memulai karir dari jurnalis, humas tambang batu bara Aceh Barat PT Tiara Marga Trakindo (TMT) Grup, aktif dalam Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) dan sekarang humas pada Harita Grup, Obi Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara (baca biodata penulis).
Ketika pamitan, saya bilang ke beliau terima kasih atas ole-ole bukunya. Ia senyum dan yang terucap keluar adalah nanti saling berkabar.
Alasan saya mengurai cerita ini sebagai teks naratif karena ada peristiwa atau kejadian. Dan ada tokoh atau karakter, itu pertama. Kedua, dari buku beliau, yakni mengurai kata jurnalistik kata dasar "jurnal"atau journal artinya laporan atau catatan atau dalam bahasa Prancis jour yang berarti hari (day) atau catatan harian (diary). Dengan demikian, tulisan ini merupakan catatan harian 2 jam bersama bang Handi Andrian...(*)
