![]() |
| foto istimewah |
Ternate – Keberlanjutan lingkungan kerap dipahami sebagai isu besar yang membutuhkan langkah besar pula. Namun, dalam praktiknya, perubahan justru sering berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari penggunaan listrik yang bijak, pengelolaan sampah rumah tangga, hingga menjaga kebersihan ruang hidup bersama, semua menjadi bagian dari upaya sederhana yang berdampak jangka panjang.
Gagasan ini sejalan dengan semangat Earth Hour, gerakan global yang pertama kali dilakukan pada 31 Maret 2007 di Sydney, Australia, dengan melibatkan lebih dari 2,2 juta orang yang mematikan lampu selama satu jam. Seiring waktu, makna gerakan ini berkembang—tidak hanya tentang satu jam tanpa listrik, tetapi tentang perubahan perilaku setelahnya.
Di Kota Ternate, semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan Earth Hour 60+ yang digelar untuk kedua kalinya oleh Pemerintah Kota Ternate bersama Harita Nickel di Benteng Oranje, Sabtu (25/4/2026).
Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak mematikan lampu selama satu jam sebagai simbol kepedulian terhadap bumi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang edukasi publik tentang pentingnya perubahan kebiasaan sehari-hari.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menegaskan bahwa kesadaran menjaga lingkungan dapat dimulai dari rumah.
“Kesadaran menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah,” ujarnya.
Selain aksi pemadaman lampu, kegiatan juga diisi dengan edukasi pengurangan penggunaan plastik melalui pembagian 1.000 kantong kain, serta sosialisasi pentingnya ruang terbuka hijau dan penggunaan energi secara efisien.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, Muslih Muhammad, menilai kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi langkah strategis dalam penguatan pengelolaan lingkungan.
“Kolaborasi antara pihak swasta dan pemerintah secara bersamaan mendorong penguatan serta implementasi pengelolaan lingkungan di lapangan,” jelasnya.
Namun, kesadaran di wilayah perkotaan tidak akan optimal tanpa diikuti aksi nyata di wilayah lain, termasuk kawasan pesisir.
Aksi Nyata di Kawasi: 3,2 Ton Sampah Terangkat
Upaya menjaga lingkungan juga terlihat di pesisir Desa Kawasi, Pulau Obi. Warga bersama karyawan Harita Nickel, serta personel TNI dan Polri, melaksanakan kegiatan bersih pantai sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem laut.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 3,2 ton sampah berhasil dikumpulkan dalam waktu singkat. Sampah tersebut kemudian dibawa ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) untuk diproses lebih lanjut.
Selain aksi bersih-bersih, kegiatan juga diisi dengan edukasi tentang dampak sampah terhadap lingkungan.
Kevin, fasilitator kegiatan dari Harita Nickel, menjelaskan bahwa beberapa jenis sampah memiliki dampak jangka panjang.
“Botol plastik bisa bertahan hingga ratusan tahun, sementara styrofoam sulit terurai. Jika masuk ke laut, dampaknya akan kembali ke manusia, termasuk masyarakat pesisir,” jelasnya.
Kegiatan ini juga dirancang secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat dalam berbagai tantangan menarik, seperti pengumpulan sampah terbanyak, kategori sampah terunik, hingga kelompok paling kompak. Keterlibatan aktif terlihat dari berbagai kalangan, termasuk kelompok ibu-ibu Desa Kawasi.
Salah satu warga mengaku kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami jadi lebih sadar pentingnya menjaga kebersihan pantai. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan,” ujarnya.
Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menekankan pentingnya menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
“Pesisir dan laut merupakan bagian penting dari ekosistem sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penjagaannya perlu dilakukan secara konsisten dan kolaboratif,” ungkapnya.
Kesadaran, Aksi, dan Konsistensi
Dua konteks berbeda—kota dan pesisir—menunjukkan pola yang sama. Keberlanjutan tidak lahir dari satu aksi besar, melainkan dari kombinasi kesadaran, tindakan, kolaborasi, dan pengulangan.
Seperti disampaikan peneliti Institute of Development Studies, Ian Scoones, keberlanjutan akan lebih efektif ketika diterjemahkan dalam konteks lokal dan melibatkan berbagai pihak.
Dari Ternate hingga Kawasi, pesan yang muncul menjadi jelas: menjaga lingkungan bukan sekadar momentum sesaat, tetapi kebiasaan yang terus dijalankan bersama.
