Kecanduan Digital: Ancaman Senyap bagi Masa Depan Anak

Editor: Admin

foto ilustrasi

Oleh: Nasir M. Ali

Pegawai Kementerian Haji Kota Ternate

Di banyak rumah, pemandangan itu semakin biasa. Anak duduk bersama keluarganya, tetapi pandangannya tertambat pada layar. Tubuhnya berada di ruang makan, sementara perhatian dan emosinya berkeliaran di dunia lain. Ia tertawa sendiri, menggeser layar tanpa henti, lalu marah ketika gawai diminta untuk diletakkan.

Kita kerap menganggapnya sebagai kenakalan kecil atau gejala zaman. Padahal, di balik kebiasaan tersebut, sedang tumbuh persoalan yang jauh lebih serius: hubungan anak dengan teknologi mulai kehilangan keseimbangan.

Momentum Hari Anak Nasional 2026 semestinya menjadi alarm bersama. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengajak anak kembali bermain, berinteraksi secara langsung, dan mengurangi penggunaan gawai. Kampanye itu juga berkaitan dengan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan gawai di lingkungan satuan pendidikan. Ini bukan sekadar ajakan nostalgia agar anak kembali bermain congklak, gasing, atau layang-layang. Di baliknya terdapat kekhawatiran serius terhadap kesehatan fisik, perkembangan emosi, kemampuan bersosialisasi, dan masa depan pembelajaran anak.

Anak Indonesia di Tengah Banjir Digital

Teknologi digital tentu bukan musuh. Internet menyediakan sumber belajar, membuka ruang kreativitas, dan memungkinkan anak berkomunikasi melampaui batas geografis. Namun, sesuatu yang bermanfaat dapat berubah menjadi ancaman ketika digunakan tanpa batas, tanpa pendampingan, dan tanpa kesiapan psikologis.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk telah memiliki telepon seluler. Angka tersebut menggambarkan betapa dalamnya teknologi digital memasuki kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan anak-anak.

Gambaran yang lebih mengkhawatirkan muncul dalam laporan UNICEF Indonesia. Evaluasi yang diterbitkan pada Maret 2026 menyebutkan bahwa 99,4 persen anak menggunakan internet dengan rata-rata waktu penggunaan sekitar 5,4 jam per hari. Artinya, bagi banyak anak, waktu di depan layar dapat lebih panjang daripada waktu bermain di luar rumah, berbicara dengan orang tua, atau membaca buku secara tenang.

Kajian dasar UNICEF juga memperlihatkan bahwa hanya 37,5 persen anak yang pernah menerima informasi mengenai cara menjaga keselamatan di internet. Sebanyak 42 persen anak mengaku pernah merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman daring, sedangkan 50,3 persen pernah melihat gambar seksual di media sosial. Ruang digital dengan demikian bukan hanya arena hiburan, melainkan juga lingkungan yang dapat menghadapkan anak pada perundungan, manipulasi, kekerasan, eksploitasi, dan konten yang belum mampu mereka pahami secara matang.

Bukan Sekadar Lama Menatap Layar

Istilah “kecanduan digital” sering dipakai untuk menggambarkan anak yang tidak dapat berpisah dari gawai. Dalam penelitian, istilah yang lebih berhati-hati adalah problematic digital media use, problematic smartphone use, atau penggunaan media digital bermasalah.

Masalahnya bukan semata-mata berapa jam anak menggunakan gawai. Tanda yang lebih penting adalah hilangnya kendali: anak terus menggunakan perangkat meskipun mengganggu waktu tidur, belajar, makan, beribadah, bermain, dan berhubungan dengan keluarga. Anak menjadi gelisah ketika tidak memegang gawai, mudah marah saat akses dihentikan, mengabaikan kewajiban, dan menjadikan layar sebagai satu-satunya cara mengatasi bosan, sedih, atau kesepian.

Meta-analisis terbaru yang diterbitkan dalam JAMA Pediatrics pada 2026, dengan menggabungkan berbagai studi longitudinal pada anak dan remaja, menemukan bahwa penggunaan media digital secara konsisten berkaitan dengan sejumlah risiko terhadap kesehatan dan perkembangan. Hubungan yang paling menonjol ditemukan pada penggunaan media sosial. Namun, para peneliti juga mengingatkan bahwa jenis penggunaan, isi, usia anak, dan lingkungan pendampingan ikut menentukan dampaknya.

Karena itu, tidak semua aktivitas di depan layar harus disamakan. Anak yang menggunakan perangkat selama 30 menit untuk menggambar, membuat musik, atau berbicara dengan keluarganya memiliki pengalaman berbeda dari anak yang menghabiskan berjam-jam menggulir video pendek tanpa tujuan. Persoalannya bukan hanya kuantitas waktu, tetapi juga kualitas isi, tujuan penggunaan, dan apa yang tersingkir akibat penggunaan tersebut.

Tidur yang Dicuri Layar

Dampak paling nyata dari penggunaan digital bermasalah terlihat pada pola tidur. Banyak anak membawa gawai ke tempat tidur dengan alasan menonton satu video terakhir. Namun, video terakhir hampir tidak pernah benar-benar menjadi yang terakhir. Sistem putar otomatis, notifikasi, dan guliran tanpa akhir membuat anak terus bertahan di depan layar.

Sebuah umbrella review yang diterbitkan Maria Fiore dan koleganya pada 2025 merangkum tujuh kajian sistematis, 127 penelitian, dan data sekitar 867.000 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital berkaitan dengan waktu tidur yang lebih pendek, penundaan waktu tidur, kesulitan memulai tidur, dan kualitas tidur yang lebih buruk. Dampaknya lebih kuat pada penggunaan media sosial dan internet, terutama ketika perangkat digunakan pada malam hari.

Kurang tidur tidak berhenti pada rasa mengantuk. Anak yang tidurnya terganggu cenderung lebih sulit berkonsentrasi, mengendalikan emosi, mengingat pelajaran, dan mengikuti kegiatan sekolah. Dengan kata lain, layar tidak hanya mengambil waktu malam anak, tetapi juga dapat mencuri kualitas hari berikutnya.

Emosi, Prestasi, dan Relasi Sosial

Kajian terhadap 67 penelitian yang dipublikasikan pada 2024 menemukan bahwa penggunaan media sosial bermasalah berhubungan dengan gejala depresi dan kecemasan pada anak serta remaja. Beberapa mekanisme yang menjembatani hubungan tersebut adalah kurang tidur, kebiasaan membandingkan diri, pencarian pengakuan, dan ketergantungan terhadap umpan balik dari orang lain. Hubungan antara durasi penggunaan dan gangguan emosional juga ditemukan lebih konsisten pada anak perempuan.

Meta-analisis lain pada 2025 menunjukkan bahwa anak dan remaja dengan kecanduan digital memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami insomnia, kualitas tidur buruk, kecemasan, stres, depresi, dan berbagai persoalan kesehatan lainnya. Temuan tersebut harus dibaca secara hati-hati karena hubungan statistik tidak selalu berarti bahwa gawai menjadi satu-satunya penyebab. Namun, konsistensi temuan dari banyak penelitian tidak boleh diabaikan.

Dampaknya juga menyentuh dunia pendidikan. Meta-analisis Paterna dan koleganya dalam Journal of Behavioral Addictions pada 2024 menemukan hubungan negatif antara penggunaan smartphone bermasalah dan prestasi akademik. Besarnya hubungan memang tergolong kecil, tetapi cenderung lebih kuat pada siswa sekolah dasar dan menengah. Dampak kecil yang terjadi terus-menerus pada jutaan anak tetap dapat menjadi persoalan besar bagi sistem pendidikan.

Di bidang sosial-emosional, meta-analisis longitudinal dalam Psychological Bulletin pada 2025 menunjukkan hubungan dua arah. Penggunaan layar berlebihan dapat berkaitan dengan meningkatnya masalah sosial-emosional. Sebaliknya, anak yang telah mengalami kesepian, kecemasan, atau persoalan perilaku juga dapat mencari pelarian melalui layar. Karena itu, mengambil gawai tanpa memahami masalah dasar anak dapat membuat intervensi gagal.

Mengapa Anak Sulit Berhenti?

Teori Interaction of Person-Affect-Cognition-Execution atau I-PACE membantu menjelaskan mengapa sebagian anak lebih mudah terperangkap dalam penggunaan digital bermasalah. Perilaku tersebut lahir dari interaksi antara kondisi pribadi, emosi, cara berpikir, keinginan memperoleh kepuasan, dan kemampuan mengendalikan diri.

Anak yang kesepian, tidak percaya diri, mengalami tekanan, atau merasa tidak diterima dapat mencari kenyamanan melalui permainan dan media sosial. Setiap tanda suka, komentar, kemenangan, dan video baru memberikan kepuasan singkat. Lama-kelamaan, otak belajar menjadikan gawai sebagai jalan tercepat untuk menghindari perasaan tidak menyenangkan.

Studi longitudinal empat gelombang pada 2025 yang menggunakan kerangka I-PACE memperlihatkan bahwa fear of missing out atau ketakutan tertinggal dapat mendorong keinginan, pikiran berulang, dan dorongan kuat untuk terus memeriksa telepon. Anak bukan sekadar ingin melihat informasi baru. Ia takut kehilangan percakapan, tren, pengakuan, dan posisi di antara teman-temannya.

Karena itu, kita tidak boleh hanya menuduh anak tidak disiplin. Mereka sedang berhadapan dengan platform yang memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Regulasi Tidak Cukup Tanpa Teladan

Pemerintah telah menerbitkan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak atau PP TUNAS. Aturan teknisnya kemudian diperkuat melalui Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026. Kebijakan tersebut mengatur verifikasi usia, perlindungan data, pengawasan orang tua, serta pembatasan akun anak pada platform berisiko tinggi.

Kebijakan ini merupakan kemajuan penting. Namun, negara tidak boleh berhenti pada imbauan kepada orang tua dan penyitaan telepon di sekolah. Platform digital juga harus bertanggung jawab atas desain yang mendorong penggunaan kompulsif. Verifikasi usia harus dijalankan secara sungguh-sungguh. Privasi anak harus menjadi pengaturan bawaan. Notifikasi malam, putar otomatis, guliran tanpa akhir, dan rekomendasi konten berisiko harus dibatasi pada akun anak.

Sekolah perlu menetapkan waktu dan ruang bebas gawai, bukan menjadikan teknologi sebagai barang terlarang untuk semua keadaan. Gawai tetap dapat digunakan ketika benar-benar mendukung pembelajaran, tetapi setelah tujuan itu selesai, anak perlu kembali berdiskusi, bereksperimen, bergerak, membaca, dan bekerja bersama.

Di rumah, aturan akan kehilangan wibawa apabila orang tua meminta anak meletakkan gawai sambil terus memeriksa teleponnya sendiri. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan dari apa yang dilakukan orang dewasa. Meja makan tanpa gawai, kamar tidur bebas perangkat, aktivitas keluarga, olahraga, membaca bersama, dan percakapan harian merupakan bentuk pendidikan digital yang paling konkret.

Mengembalikan Dunia Anak

Mengurangi penggunaan gawai tidak cukup dilakukan dengan larangan. Anak membutuhkan sesuatu yang lebih menarik untuk menggantikan layar: halaman yang aman, ruang bermain, taman, perpustakaan, kegiatan olahraga, komunitas seni, permainan tradisional, dan kehadiran orang dewasa yang bersedia mendengarkan.

Larangan tanpa alternatif hanya akan memindahkan konflik dari layar ke ruang keluarga.

Keberhasilan kebijakan pembatasan gawai jangan hanya diukur dari jumlah telepon yang disimpan di lemari sekolah. Ukurlah dari bertambahnya waktu tidur anak, membaiknya konsentrasi, hidupnya halaman sekolah, kembalinya percakapan di meja makan, serta tumbuhnya persahabatan yang tidak bergantung pada tanda suka dan jumlah pengikut.

Anak-anak tidak boleh kehilangan teknologi. Namun, mereka juga tidak boleh kehilangan masa kecil karena teknologi.

Di tengah dunia yang semakin digital, tugas kita bukan menjauhkan anak sepenuhnya dari layar. Tugas kita adalah memastikan layar tetap menjadi alat di tangan anak—bukan anak yang perlahan-lahan menjadi tawanan layar.

Share:
Komentar

Berita Terkini