![]() |
| Foto istimewa |
Tangerang Selatan – Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) kembali menunjukkan kiprahnya di forum akademik internasional. Paper berjudul "Between Moral Resistance and Social Control: Javanese Family Culture in Accounting Ethics Education" karya Muhamad Raehan Alparizi dan Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. mendapat apresiasi dari reviewer pada ajang International Call for Paper Forum Dosen Akuntansi Publik (FDAP) 2026 yang diselenggarakan Universitas Terbuka.
Paper tersebut mengangkat tema yang relatif baru dalam kajian akuntansi, yakni bagaimana budaya keluarga Jawa membentuk pendidikan etika akuntansi secara ambivalen. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya seperti rukun, tepa selira, dan andhap asor mampu memperkuat sensitivitas moral calon akuntan, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi melahirkan budaya diam, loyalitas hierarkis, dan kompromi etis dalam dunia akademik maupun profesi.
Menggunakan pendekatan Critical Institutional Ethnography dengan perspektif Foucauldian dan Postcolonial Accounting, penelitian ini melibatkan 28 informan yang terdiri atas mahasiswa akuntansi, auditor junior, dosen, dan organisasi mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Indonesia selama delapan bulan. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa budaya lokal tidak dapat dipahami secara normatif, melainkan sebagai ruang negosiasi antara solidaritas moral, relasi kuasa, dan tuntutan profesionalisme modern.
Reviewer, Dr. Fachruzzaman, S.E., MDM., Ak., CA., ASEAN CPA., Cert. IPSAS, memberikan apresiasi terhadap kualitas gagasan yang diangkat dalam penelitian tersebut.
"Paper ini sudah cukup bagus dan luar biasa untuk mahasiswa S1. Namun, masih perlu diperkuat pada penjelasan mengenai definisi resistensi moral, kontrol sosial, perspektif etika akuntansi kritis dan kultural, serta perbedaan di antara konsep-konsep tersebut agar kerangka teorinya semakin kokoh."
Dosen pendamping, Habsyah Fitri Aryani, M.Ak., menilai bahwa penelitian ini merupakan bukti bahwa mahasiswa mampu menghasilkan gagasan yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga menawarkan perspektif baru dalam pengembangan ilmu akuntansi.
"Kami terus mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menguasai aspek teknis akuntansi, tetapi juga berani mengembangkan pemikiran kritis terhadap persoalan etika, budaya, dan akuntabilitas. Justru dari keberanian mempertanyakan paradigma yang mapan lahir inovasi keilmuan yang dapat memperkaya literatur akuntansi internasional."
Penulis utama, Muhamad Raehan Alparizi, mengaku penelitian tersebut menjadi pengalaman akademik yang sangat berharga.
"Melalui penelitian ini saya belajar bahwa budaya bukan hanya warisan sosial, tetapi juga memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan etis dalam profesi akuntansi. Presentasi di forum internasional memberikan pengalaman luar biasa sekaligus membuka wawasan bahwa kritik ilmiah merupakan bagian penting dalam menghasilkan penelitian yang lebih berkualitas."
Menurutnya, masukan reviewer menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan penelitian sehingga dapat dipublikasikan pada jurnal bereputasi internasional.
Partisipasi mahasiswa Akuntansi UNUSIA dalam forum ilmiah internasional tersebut semakin menegaskan komitmen Program Studi Akuntansi FEB UNUSIA dalam membangun budaya riset sejak dini. Melalui pendampingan dosen dan kolaborasi penelitian, mahasiswa didorong menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya menjawab persoalan teknis akuntansi, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan etika profesi, budaya, dan akuntabilitas di tingkat global.
