![]() |
| foto Editing Vektor Gamal Marinyo |
Oleh:
Gamal Marinyo
Di dada para pemain Tim Nasional Prancis, terpampang
seekor ayam jantan yang berdiri tegak. Bagi sebagian orang, simbol itu mungkin
terlihat sederhana, bahkan tidak segagah singa Inggris atau elang Jerman. Namun
bagi bangsa Prancis, ayam jantan atau Le Coq Gaulois bukan sekadar
lambang olahraga, melainkan representasi sejarah panjang perjuangan,
keberanian, dan identitas nasional yang lahir dari pergolakan besar bernama
Revolusi Prancis.
Julukan Les Bleus yang melekat pada Timnas
Prancis memang berasal dari warna biru pada jersey mereka. Akan tetapi, di
balik warna biru itu tersimpan nilai-nilai yang jauh lebih dalam. Ayam jantan
menjadi simbol bangsa Prancis sejak berabad-abad lalu. Dalam bahasa Latin, kata
Gallus berarti orang Galia sekaligus ayam jantan. Dari sinilah ayam
jantan kemudian berkembang menjadi simbol keberanian, keteguhan, dan semangat
untuk tidak menyerah.
Makna tersebut menemukan momentumnya dalam Revolusi
Prancis tahun 1789, sebuah peristiwa yang tidak hanya mengubah wajah Prancis,
tetapi juga mengubah arah sejarah dunia. Revolusi itu lahir dari perlawanan
rakyat terhadap ketidakadilan, kesenjangan sosial, dan kekuasaan absolut
monarki yang telah berlangsung berabad-abad. Dari jalan-jalan Paris hingga
penyerbuan Bastille, rakyat Prancis menyuarakan tuntutan akan kehidupan yang
lebih manusiawi dan lebih setara.
Dari revolusi itu lahirlah semboyan yang hingga kini
menjadi salah satu warisan politik terbesar dunia, yakni Liberté, Égalité,
Fraternité — Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan. Tiga kata ini bukan
sekadar slogan revolusioner, tetapi fondasi moral yang membentuk republik
modern. Kebebasan berarti setiap manusia memiliki hak untuk menentukan hidupnya
tanpa penindasan. Kesetaraan menegaskan bahwa tidak ada manusia yang lebih
tinggi karena darah bangsawan, kekayaan, ataupun keturunan. Sedangkan
persaudaraan mengajarkan bahwa kebebasan dan kesetaraan hanya akan bermakna
jika manusia saling menghormati sebagai sesama warga negara.
Ayam jantan Prancis menjadi lebih dari sekadar logo.
Ia adalah simbol rakyat biasa yang bangkit melawan feodalisme. Ia mewakili
keberanian petani, buruh, dan kaum miskin yang menolak tunduk pada ketidakadilan.
Ketika para pemain Prancis mengenakan lambang ayam jantan di dada mereka,
sesungguhnya mereka sedang membawa warisan sejarah tentang keberanian rakyat
yang pernah mengguncang dunia.
Menariknya, semangat Revolusi Prancis tidak berhenti
di Eropa. Ide tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan menyebar ke
berbagai belahan dunia, termasuk menginspirasi perjuangan bangsa-bangsa yang
hidup di bawah kolonialisme. Bahkan dalam kajian sejarah dan sastra di
Indonesia disebutkan bahwa semangat Revolusi Prancis turut menjadi inspirasi
lahirnya kesadaran nasional, nasionalisme, dan perjuangan menuju kemerdekaan.
Karena itu, ketika kita menyaksikan Prancis bermain di
panggung sepak bola dunia FIFA Word Cup 2026, sesungguhnya kita tidak hanya
melihat sebelas pemain mengejar bola. Kita sedang menyaksikan sebuah bangsa
yang membawa simbol sejarahnya sendiri. Ayam jantan itu mengingatkan bahwa
kejayaan sebuah negara bukan hanya dibangun oleh kekuatan militer atau kemajuan
ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai yang diperjuangkan rakyatnya.
Di abad 21 ini yang dipenuhi polarisasi, ketimpangan,
dan krisis kemanusiaan, semboyan Liberté, Égalité, Fraternité tetap
relevan untuk direnungkan. Dunia mungkin telah berubah, tetapi cita-cita
tentang kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan masih menjadi pekerjaan rumah
bagi banyak bangsa, termasuk Indonesia.
Mungkin itulah sebabnya ayam jantan Prancis tetap
berdiri tegak hingga hari ini dan mengangkat piala dunia 2 kali kali di ajang
Dunia. Tim ini bukan hanya simbol olahraga, melainkan pengingat bahwa
keberanian sejati adalah keberanian memperjuangkan kebebasan, menegakkan
kesetaraan, dan merawat persaudaraan di tengah perbedaan. Merci beaucoup. Let's go
Les Bleus. #Oliseee
