![]() |
| Gamal Marinyo, M.Pd Adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Islam Di Universitas K.H Abdul Chalim Mojokerto |
Oleh: Gamal Marinyo
ISNU Maluku Utara
Di tengah berbagai
upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia, satu persoalan
mendasar masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini, yakni rendahnya budaya
literasi. Padahal, kualitas literasi merupakan salah satu indikator penting
yang menentukan daya saing suatu bangsa di era global pengetahuan saat ini.
Gambaran tersebut
terlihat dari hasil Programme for International Student
Assessment (PISA) yang menempatkan kemampuan literasi membaca siswa
Indonesia pada skor 359 dan
berada di peringkat ke-63 dari 81
negara peserta, jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai 476 poin. Data ini menunjukkan bahwa
kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi tertulis masih menjadi
tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia.
Kondisi tersebut
diperkuat oleh rilis terbaru Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia pada Juni 2026. Data menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM)
masih tergolong rendah dengan rata-rata capaian kabupaten/kota sebesar 10,37 dan tingkat provinsi sebesar 29,36. Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM)
nasional berada pada angka 54,8.
Bahkan, rata-rata masyarakat Indonesia hanya mampu menyelesaikan sekitar 5,91 buku per tahun dengan total waktu
membaca sekitar 129 jam dalam setahun.
Angka-angka tersebut
memberikan sinyal bahwa budaya membaca belum menjadi bagian yang kuat dalam
kehidupan masyarakat. Ironisnya, di saat yang sama masyarakat Indonesia dikenal
sebagai salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Waktu yang
dihabiskan untuk berinteraksi di ruang digital sering kali jauh lebih besar
dibandingkan waktu untuk membaca buku atau mengakses sumber pengetahuan yang
berkualitas. Dengan kata lain lebih banyak “Bafeto”
di bandingkan “babaca.
Persoalan ini tentu
tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Gerakan literasi membutuhkan
keterlibatan keluarga, komunitas, media, perguruan tinggi, dan pemerintah
secara bersama-sama. Sebab, literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan
menulis, melainkan fondasi utama bagi lahirnya masyarakat yang kritis,
produktif, dan berdaya saing.
Di dunia Islam, literasi
bahkan merupakan bagian dari identitas peradaban. Wahyu pertama yang diterima
Nabi Muhammad SAW dimulai dengan perintah membaca.
"Iqra' bismi
rabbika alladzi khalaq" (Bacalah dengan nama
Tuhanmu yang menciptakan). (QS. Al-'Alaq: 1)
Ayat tersebut
menunjukkan bahwa Islam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama
pembangunan manusia. Membaca dalam konteks ini tidak hanya berarti membaca
teks, tetapi juga membaca realitas sosial, memahami perkembangan zaman, serta
menggali ilmu pengetahuan yang membawa kemaslahatan.
Tidak mengherankan
apabila sejarah mencatat bahwa kejayaan peradaban Islam dibangun oleh tradisi
literasi yang kuat. Pada masa Abbasiyah, misalnya, Baitul Hikmah di Baghdad menjadi pusat penerjemahan, penelitian,
dan pengembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak ilmuwan besar dunia.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu merupakan
jalan menuju kemuliaan manusia. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
"Menuntut ilmu
adalah kewajiban bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah)
Karena itu, rendahnya
budaya literasi sesungguhnya bukan hanya persoalan pendidikan, melainkan
persoalan peradaban.
Tantangan tersebut
juga dihadapi oleh madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam. Rendahnya minat
baca peserta didik, keterbatasan sarana perpustakaan, kurang optimalnya
pemanfaatan teknologi sebagai media belajar, serta dominasi budaya instan
menjadi hambatan yang harus dihadapi bersama.
Padahal, menurut Kalantzis dan Cope (2012), literasi pada
abad ke-21 tidak lagi dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi
mencakup kemampuan memahami, menginterpretasikan, mengevaluasi, dan memproduksi
informasi melalui berbagai media. Dengan kata lain, madrasah tidak cukup hanya
mengajarkan siswa membaca buku, tetapi juga harus membekali mereka dengan
kemampuan literasi digital, literasi informasi, dan berpikir kritis.
Disini kehadiran GALATAMA (Gerakan Literasi Madrasah)
yang digagas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara menjadi
sangat relevan. Program ini merupakan ikhtiar nyata untuk menjadikan literasi
sebagai ikon pengembangan madrasah sekaligus menjawab tantangan rendahnya
budaya membaca di kalangan pelajar.
Festival GALATAMA yang
kini memasuki penyelenggaraan kedua melibatkan peserta didik dari 10 kabupaten/kota di Maluku Utara.
Melalui berbagai cabang kompetisi literasi agama dan bahasa, peserta didik
diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berpikir
kritis, dan berkomunikasi secara kreatif. Tahun ini, misalnya, Kementerian
Agama Kota Ternate mengirimkan 51 siswa
terbaik untuk berkompetisi di tingkat provinsi setelah sebelumnya
berhasil meraih berbagai prestasi pada pelaksanaan festival tahun lalu.
GALATAMA tidak hanya
dimaksudkan sebagai arena perlombaan. Lebih dari itu, program ini merupakan
upaya membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di lingkungan madrasah.
Ketika siswa terbiasa membaca, menulis, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan,
sesungguhnya mereka sedang dipersiapkan menjadi generasi yang mampu menghadapi
tantangan masa depan.
Literasi harus
dipandang sebagai investasi peradaban. Setiap buku yang dibaca, setiap tulisan
yang dihasilkan, dan setiap gagasan yang lahir dari ruang-ruang madrasah
merupakan bagian dari pembangunan masa depan bangsa. Sebab, bangsa yang besar
bukanlah bangsa yang hanya kaya sumber daya alam, melainkan bangsa yang
memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang kuat.
GALATAMA mungkin
hanyalah satu langkah kecil. Namun dari langkah kecil itulah semangat iqra'
dapat terus hidup di madrasah. Dan dari semangat itulah kita berharap lahir
generasi Islam yang berilmu, berakhlak, kritis, serta mampu membawa Indonesia
menuju peradaban yang lebih maju dan bermartabat. Wallahu
a'lam bishawab
