Membongkar Belenggu: Perempuan Sebagai Subjek, Bukan Objek Revolusi Teknologi

Editor: Admin

 

foto Istimewa 

Jejak darah Marsinah bukan sekadar memorial kesedihan, melainkan manifesto perlawanan yang harus didentumkan kembali dalam dinginnya ruang digital. Jika dahulu Marsinah berhadapan dengan moncong senjata dan sepatu laras demi martabat buruh, maka perempuan hari ini harus melawan algoritma patriarki yang berusaha mengurung potensi mereka dalam kotak-kotak konsumsi.

Menolak Menjadi "Pemanis" di Layar Teknologi

Kita harus jujur: kemajuan teknologi hari ini sering kali hanyalah perpanjangan tangan dari struktur kekuasaan maskulin. Perempuan kerap dipaksa menjadi objek estetika, komoditas data, dan target pasar, sementara keputusan krusial di balik barisan kode pemrograman masih didominasi oleh ego patriarki.

Menjadi "Garda Terdepan" berarti menolak hanya menjadi operator. Kita harus menjadi arsitek. Kita tidak butuh kursi "belas kasihan" atas nama kuota gender; kita datang untuk merombak total meja perundingannya.

Digitalisasi Bukan Emansipasi Semu

Tantangan besar perempuan saat ini adalah Invisible Labor (kerja tak terlihat) yang kian terdigitalisasi. Teknologi sering kali hanya memindahkan beban domestik ke ruang siber tanpa mencabut akar penindasannya.

KBGO sebagai Terorisme Modern: Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) adalah alat pembungkam sistematis agar perempuan menarik diri dari ruang publik.

Eksploitasi Data dan Bias AI: Tubuh perempuan dieksploitasi melalui lensa kecerdasan buatan yang bias, mendegradasi citra diri demi profit korporasi semata.

Radikalisme kita hari ini adalah merebut kedaulatan atas pikiran dan data. Kita harus menjadi "Marsinah Digital" yang berani melakukan sabotase terhadap narasi yang merendahkan perempuan. Kemajuan teknologi tanpa perspektif perempuan hanyalah alat penindasan yang lebih canggih.

Perempuan harus berdiri tegak untuk mendekonstruksi algoritma yang bias gender, Merebut ruang aman di internet dari sistem yang permisif terhadap kekerasan, Mengorganisir massa lintas batas, menggunakan teknologi sebagai senjata perjuangan sebagaimana Marsinah mengorganisir buruh di pabrik.

"Peradaban tidak akan pernah maju selama perempuan hanya dijadikan pelengkap sejarah. Kita adalah tinta yang menuliskan sejarah itu sendiri, dan jika tinta itu harus tumpah sebagai protes, biarlah ia melahirkan warna baru bagi dunia yang lebih adil."

Kita tidak lagi meminta izin untuk maju. Kita mengambil hak yang selama ini dicuri oleh sistem usang. Teknologi hanyalah alat, dan di tangan perempuan yang sadar akan sejarah perlawanannya, ia akan menjadi palu godam yang menghancurkan tembok ketidakadilan. (red/tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini