Sherly Tjoanda Tancap Gas Program RTLH 2026

Editor: Admin

 

Foto istimewa 

Sofifi - Pemerintah Provinsi Malut terus mempercepat program pengentasan kemiskinan melalui sektor perumahan. Salah satu langkah konkret yang kini dijalankan adalah Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Tahun 2026 yang secara resmi diluncurkan pada Februari lalu.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, bahkan langsung turun ke lapangan untuk memastikan program tersebut berjalan sesuai rencana, ia meninjau langsung salah satu lokasi penerima bantuan RTLH di Desa Gulapapo, Kabupaten Haltim pada Kamis (5/3) kemarin.

Kunjungan tersebut menjadi penanda bahwa pemerintah provinsi tidak hanya meluncurkan program di atas kertas, tetapi juga memastikan implementasinya menyentuh langsung masyarakat yang membutuhkan.

Program RTLH menjadi salah satu strategi utama pemerintah daerah dalam menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah, melalui program ini, pemerintah berupaya memperbaiki kondisi rumah warga yang selama ini tidak memenuhi standar kesehatan dan kelayakan.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, pada tahun 2026 pemerintah menargetkan rehabilitasi sebanyak 1.200 unit rumah di berbagai wilayah Malut.

Jumlah ini meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025 lalu, pemerintah hanya mampu merehabilitasi sekitar 700 unit rumah. Kenaikan target tersebut menunjukkan komitmen pemerintah provinsi untuk memperluas jangkauan program sekaligus mempercepat perbaikan kualitas tempat tinggal masyarakat.

Selain meningkatkan jumlah unit rumah yang diperbaiki, pemerintah juga menyiapkan mekanisme pengawasan pembangunan yang lebih ketat. Salah satunya dengan menyediakan desain standar rumah yang dicetak dan diberikan kepada setiap penerima bantuan.

Desain tersebut berfungsi sebagai panduan pembangunan sekaligus alat kontrol bagi masyarakat agar dapat memantau kesesuaian pembangunan rumah dengan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Dengan adanya desain standar ini, diharapkan kualitas rumah yang dibangun atau direnovasi tetap terjaga dan sesuai dengan konsep hunian sehat, 

Kepala Disperkim Malut, Musrifah Alhadar, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya sekadar memberikan bantuan material, akan tetapi pemerintah juga menyiapkan tenaga pendamping atau fasilitator yang akan mendampingi masyarakat selama proses pembangunan berlangsung.

Fasilitator tersebut memiliki peran penting untuk memastikan bahwa pembangunan rumah berjalan sesuai spesifikasi teknis yang telah ditentukan. Mereka juga bertugas memberikan arahan kepada masyarakat terkait proses pembangunan yang benar.

“Fasilitator akan mendampingi langsung proses pembangunan di lapangan, termasuk memastikan spesifikasi teknis dan kualitas bangunan sesuai dengan yang telah ditetapkan,” kata Musrifah yang akrab disapa Ivo.

Ia menjelaskan bahwa program RTLH tahun ini mencakup tiga jenis pekerjaan utama, yakni pembangunan dapur sehat, renovasi rumah lama, serta pembangunan rumah baru bagi masyarakat yang benar-benar tidak memiliki hunian layak.

Pembangunan dapur sehat menjadi salah satu fokus penting dalam program ini karena berkaitan langsung dengan kesehatan keluarga, dapur yang memenuhi standar sanitasi diyakini mampu membantu menciptakan lingkungan rumah tangga yang lebih sehat.

Selain itu, renovasi rumah lama juga menjadi prioritas bagi warga yang sebenarnya sudah memiliki rumah, namun kondisinya tidak lagi layak dihuni. Melalui program ini, bagian-bagian rumah yang rusak akan diperbaiki agar kembali aman dan nyaman ditempati.

Sementara itu, pembangunan rumah baru juga diperuntukkan bagi warga yang tempat tinggalnya sudah tidak memungkinkan untuk direnovasi atau bahkan tidak memiliki rumah yang layak sama sekali, langkah ini merupakan upaya nyata pemerintah untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat terhadap akses hunian yang sehat dan layak.

“Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sanitasi rumah tangga serta memastikan setiap rumah memenuhi standar kebersihan dan kesehatan lingkungan,” ujarnya.

Dalam program RTLH tahun 2026, pemerintah juga telah menetapkan sejumlah standar pembangunan rumah. Pada bagian tampak depan, rumah akan diplester dan dicat agar terlihat rapi dan terlindungi dari cuaca.

Sementara itu, bagian dalam rumah akan diplester namun belum dicat, atap rumah menggunakan bahan standar yang dinilai cukup kuat dan aman untuk digunakan dalam jangka waktu panjang.

Untuk bagian lantai, pemerintah belum dapat memasang keramik karena keterbatasan anggaran. Meski demikian, rumah tetap dibangun dengan struktur yang kokoh dan memenuhi standar kelayakan hunian.

Pemerintah provinsi juga telah menetapkan alokasi anggaran sebesar Rp60 juta untuk setiap unit rumah baru, dari jumlah tersebut, sekitar 10 hingga 15 persen dialokasikan untuk pembayaran upah tukang yang membantu proses pembangunan.

 Sementara itu, sebagian besar anggaran diberikan dalam bentuk material bangunan seperti bata, semen, pasir, dan berbagai kebutuhan konstruksi lainnya.

Pola penyaluran bantuan dalam bentuk material ini dilakukan untuk memastikan bahwa anggaran benar-benar digunakan untuk pembangunan rumah.

Di Desa Gulapapo sendiri, pada tahun 2025 tercatat memperoleh kuota 25 unit rumah RTLH, program tersebut kini kembali berlanjut dengan proses pendataan dan verifikasi calon penerima bantuan yang masih terus dilakukan.

Menurut Ivo, saat ini pemerintah daerah tengah melakukan pendataan awal serta verifikasi di seluruh kabupaten dan kota di Maluku Utara untuk memastikan bantuan benar-benar diberikan kepada masyarakat yang berhak.

“Pendataan dan verifikasi terus dilakukan agar program ini tepat sasaran,” katanya.

Bagi masyarakat, program RTLH bukan sekadar bantuan pembangunan rumah. Program ini juga menjadi harapan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga.

Hunian yang lebih layak diharapkan mampu menciptakan lingkungan hidup yang sehat, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya.

Selain itu, pemerintah juga menilai bahwa program ini memiliki dampak yang lebih luas, termasuk dalam upaya menurunkan angka stunting, lingkungan tempat tinggal yang sehat dan sanitasi rumah tangga yang baik dinilai berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Kebahagiaan penerima bantuan terlihat dari wajah pasangan Erwin Senangua dan istrinya, pasangan muda ini tidak dapat menyembunyikan rasa haru saat mengetahui rumah mereka masuk dalam daftar penerima bantuan RTLH.

Erwin yang sehari-hari bekerja sebagai petani mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh pemerintah provinsi.

Menurutnya, bantuan tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap kondisi masyarakat kecil.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Maluku Utara atas program yang dinilai sangat membantu warga seperti dirinya.

“Ini adalah bantuan yang sangat berarti bagi kami, terima kasih kepada Ibu Gubernur karena telah memperhatikan masyarakat kecil seperti kami,” ujarnya.

Bagi Erwin dan warga lainnya, program RTLH tidak hanya sekadar memperbaiki bangunan rumah. Lebih dari itu, program ini menghadirkan harapan baru bagi keluarga untuk menjalani kehidupan yang lebih layak, sehat, dan sejahtera di masa depan.

Share:
Komentar

Berita Terkini