![]() |
| Merawat Keberagaman, Maluku Utara Bidik Lompatan Indeks Harmoni 2026 (foto : Istimewa) |
Kegiatan yang berlangsung di Muara Hotel ini tidak sekadar menjadi forum koordinasi, tetapi juga ruang konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat stabilitas sosial di tengah keberagaman masyarakat Maluku Utara yang kaya akan budaya, agama, dan etnis.
Rakor dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Kadri La Etje, yang hadir mewakili Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. Turut hadir Kepala Badan Kesbangpol Malut, Armin Zakaria, serta Kabid Ketahanan Ekososbud, Agama, dan Ormas, Rachmad, bersama sejumlah perwakilan OPD dan Pemerintah Kota Ternate.
Dalam sambutan gubernur yang dibacakan Kadri, ditegaskan bahwa keberagaman merupakan aset strategis yang harus dikelola dengan bijak. Menurutnya, harmoni sosial bukan hanya tujuan, melainkan fondasi utama dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Harmoni dalam keberagaman adalah kekuatan kita. IHaI hadir bukan sekadar angka statistik, tetapi sebagai alat ukur yang mampu memotret kualitas toleransi dan kohesi sosial masyarakat,” ujarnya.
Pemprov Maluku Utara juga menjadikan evaluasi capaian IHaI 2025 sebagai pijakan penting. Hasil yang belum optimal mendorong pemerintah untuk menjadikan tahun 2026 sebagai momentum akselerasi penguatan harmoni sosial di seluruh wilayah.
Lebih dari sekadar indikator, IHaI diposisikan sebagai instrumen strategis dalam merumuskan kebijakan daerah berbasis data. Indeks ini juga diharapkan mampu menjadi sistem deteksi dini terhadap potensi konflik sosial, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Kadri menegaskan, keberhasilan menjaga harmoni tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
“Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi kekuatan untuk bersatu. Kita hidup di tanah yang sama, dengan tujuan yang sama—membangun Maluku Utara yang damai dan sejahtera,” tegasnya.
Dengan semangat kolaborasi, Pemprov Maluku Utara optimistis pengukuran IHaI 2026 akan menjadi titik balik dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Menutup kegiatan, peserta rakor diajak untuk kembali meneguhkan nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Dunia yang damai dimulai dari sikap saling menghargai. Mari kita rawat harmoni ini sebagai modal besar menuju Maluku Utara yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing,” pungkas Kadri.
Rakor ini diharapkan tidak hanya menghasilkan strategi teknis, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam menjadikan Maluku Utara sebagai contoh daerah yang mampu mengelola keberagaman menjadi kekuatan pembangunan. (Red/mal)
