Tiga Obituari Dalam Kepergian Irfan Ahmad

Editor: Admin
Sumber foto (Cermat)

Oleh

Aka Abdullah

Dalam rentang waktu yang begitu singkat setelah kabar duka wafatnya Irfan Ahmad bahkan sebelum prosesi pemakaman usai telah beredar tiga tulisan obituari yang ditulis oleh M. Guntur Alting, Herman Oesman, dan Gufran A. Ibrahim. Ketiganya merupakan sosok dengan reputasi akademik yang terhormat. Kehadiran tulisan-tulisan tersebut tidak sekadar menjadi ungkapan duka, melainkan menjelma sebagai kesaksian intelektual yang memperkuat “timbangan kebaikan” almarhum di ruang publik.

Dari ketiga obituari tersebut, tergambar satu benang merah yang kuat: Irfan Ahmad bukan sekadar individu yang berpulang, melainkan sebuah kehilangan besar bagi dunia intelektual, khususnya dalam upaya merawat dan menafsirkan sejarah lokal Maluku Utara.

Kepergian Irfan Ahmad bukan hanya duka personal bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga kehilangan intelektual yang serius bagi masyarakat luas. Di tengah arus zaman yang kian cepat melupakan akar sejarahnya, Irfan hadir sebagai “penjaga ingatan”—sosok yang meyakini bahwa masa lalu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dipahami dan dijadikan pijakan dalam membangun masa depan.

Ia menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan arsip atau cerita lama, melainkan energi hidup yang membentuk identitas dan harga diri suatu masyarakat. Melalui riset, tulisan, serta keterlibatannya di tengah kehidupan sosial, Irfan berhasil menjembatani dunia akademik dengan realitas publik. Ia membumikan ilmu pengetahuan, menjadikannya milik bersama, bukan eksklusif bagi ruang-ruang kelas.

Lebih dari itu, Irfan Ahmad meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu: tulisan. Dalam produktivitas intelektualnya, ia telah menitipkan semacam “DNA sejarah” kepada generasi muda—sebuah pesan bahwa gagasan yang ditulis dengan kesungguhan dapat melampaui batas usia manusia.

Oleh karena itu, kepergiannya tidak seharusnya hanya ditangisi, tetapi juga dijawab dengan tindakan. Membaca lebih dalam, menulis lebih serius, serta merawat ingatan kolektif yang kian memudar adalah bentuk penghormatan paling nyata atas dedikasinya.

Sebab jika tidak, yang hilang bukan hanya Irfan Ahmad sebagai individu, melainkan juga kesadaran kita sebagai masyarakat yang berakar pada sejarahnya sendiri.

Selamat jalan adinda ku, tanoan au, adodak au doa jolahtaala si lutik lolan hio lo masure.

Share:
Komentar

Berita Terkini