Danau Karo dan Benteng De Brill Jadi Simbol Kolaborasi Pelestarian Budaya di Pulau Obi

Editor: Admin
Foto istimewa 

Halmahera Selatan – Komitmen menjaga warisan budaya dan lingkungan di Pulau Obi terus diperkuat melalui kolaborasi antara masyarakat Desa Kawasi dan perusahaan tambang Harita Nickel. Semangat itu terlihat dalam kegiatan Jelajah Warisan Budaya yang digelar di Kawasan Industri Obi, Sabtu (23/5), dengan melibatkan lebih dari 30 warga Desa Kawasi.

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus wisata sejarah bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat situs-situs bersejarah dan kawasan bernilai budaya yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan. Dua lokasi utama yang dikunjungi peserta yakni Danau Karo dan Benteng De Brill, yang selama ini memiliki hubungan erat dengan sejarah serta identitas masyarakat Pulau Obi.

Dipandu tokoh pemuda Desa Kawasi, Jofi Cako dan Teo Jurumudi, peserta diajak menyusuri kawasan Danau Karo yang dikenal sebagai salah satu sumber kehidupan masyarakat lingkar Obi. Danau alami tersebut bukan hanya menjadi sumber air bersih, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan cerita turun-temurun masyarakat setempat.

Di lokasi itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan perusahaan, mulai dari pemantauan kualitas air secara berkala hingga program penghijauan dan revegetasi di sekitar kawasan danau.

“Warisan budaya di Kawasi dan Pulau Obi adalah milik bersama. Karena itu, masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan perlu berjalan bersama untuk menjaga sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jofi.

Suasana dialog berlangsung hangat ketika masyarakat berbagi cerita mengenai hubungan emosional warga dengan Danau Karo, termasuk keberadaan kebun-kebun sagu milik warga di sekitar kawasan tersebut.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Benteng De Brill, benteng peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada 1674 di Pulau Obi. Situs sejarah yang dahulu digunakan untuk menjaga monopoli perdagangan rempah-rempah itu kini telah tercatat sebagai cagar budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Maluku Utara bersama Harita Nickel.

Tetua adat Desa Kawasi, Otniel Datang, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat juga mengenal Danau Karo dengan sebutan Talaga Diki-Diki atau Talaga Ma Hilo yang berarti Danau Damar.

“Sudah cukup lama saya tidak berkunjung ke sini. Suasananya masih terasa seperti dulu, dengan pulau kecil di tengah danau yang tetap menjadi bagian dari ingatan masyarakat Kawasi. Kondisinya masih terawat dan perlu terus dijaga bersama,” katanya.

Sementara itu, tokoh pemuda Desa Kawasi sekaligus Pembina Himpunan Solidaritas Pelajar Mahasiswa Kawasi (HSPMK), Teo Jurumudi, menilai kegiatan tersebut penting agar generasi muda dapat melihat langsung situs-situs bersejarah di Pulau Obi.

“Danau Karo maupun Benteng De Brill adalah bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Kawasi. Setelah melihat langsung, kondisi danau masih terjaga dengan air yang jernih dan dikelilingi pepohonan hijau,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari pemerintah desa. Ketua BPD Kawasi, Reinhard Siar, mengapresiasi keterbukaan perusahaan yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat langsung kondisi kawasan industri dan area budaya di sekitarnya.

“Kita bisa melihat langsung bahwa kondisi Danau Karo masih sangat terjaga, airnya jernih dan kawasan sekitarnya tetap hijau. Ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan tetap menjadi perhatian,” katanya.

Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menegaskan bahwa perusahaan terus menjalankan operasional pertambangan dengan memperhatikan aspek keselamatan, lingkungan, sosial kemasyarakatan, serta perlindungan situs bernilai budaya.

“Kami menyadari bahwa menjaga area-area seperti Danau Karo dan Benteng De Brill adalah tanggung jawab bersama. Karena itu perusahaan menetapkan batas dan perimeter khusus agar area tersebut tetap terlindungi dari aktivitas operasional,” jelas Dian.

Menurutnya, perlindungan kawasan budaya dan lingkungan menjadi bagian penting dalam komitmen keberlanjutan perusahaan di Kawasan Industri Obi, termasuk melalui penerapan Chance Find Procedure apabila ditemukan indikasi benda atau situs bernilai sejarah.

Kegiatan Jelajah Warisan Budaya ini pun menjadi simbol kuat bahwa pembangunan industri dan pelestarian budaya dapat berjalan berdampingan melalui kolaborasi yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan demi menjaga identitas Pulau Obi untuk generasi mendatang. (Red-tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini