![]() |
| foto istimewa |
Ternate – Kasus perundungan (bullying) yang menimpa siswa di SD Negeri 32 Kota Ternate, Maluku Utara, menuai perhatian publik. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ternate, Muchlis Djumadil, menegaskan bahwa fenomena bullying bukanlah kejadian baru dan tidak hanya terjadi di satu sekolah.
Menurut Muchlis, praktik perundungan masih kerap ditemui di berbagai wilayah, termasuk di Kota Ternate. Namun, ia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai hal lumrah seperti pada masa lalu.
“Ini bukan kejadian baru. Di mana-mana juga pasti ada, termasuk di Kota Ternate. Tapi sekarang ini tidak bisa lagi kita anggap biasa,” ujar Muchlis, Kamis (5/2).
Ia menjelaskan, Dinas Pendidikan Kota Ternate secara rutin memberikan arahan dan pembinaan kepada para kepala sekolah dan guru. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan agar tidak terjadi tindakan yang merugikan murid, baik secara fisik maupun psikologis.
“Kami selalu memberikan arahan kepada kepala sekolah dan guru-guru agar hal-hal yang tidak diinginkan ini tidak terjadi pada anak didik,” katanya.
Muchlis juga mengakui adanya perubahan sudut pandang dalam dunia pendidikan. Jika dahulu tindakan tertentu terhadap murid kerap dianggap wajar, kini pendekatan tersebut tidak lagi dapat ditoleransi. Bahkan, tindakan kecil sekalipun dapat berujung pada sanksi.
“Kalau dulu-dulu, saya mengalami hal seperti itu dan dianggap biasa. Tapi sekarang, sedikit saja perlakuan yang tidak tepat ke murid, bisa langsung dikenai sanksi,” tegasnya.
Kasus bullying di lingkungan sekolah dasar menjadi perhatian serius berbagai pihak di Kota Ternate. Disdik pun terus mendorong penguatan pengawasan dan pembinaan di sekolah-sekolah guna menekan angka perundungan.
Muchlis berharap, dengan penerapan sanksi yang tegas serta pembinaan berkelanjutan, lingkungan sekolah di Kota Ternate dapat menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh siswa. Karena sekolah seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, bukan arena adu nyali. (Red/tim)
