Jembatan Kayu Bokimiake Ambruk Usai Gempa, Akses Siswa dan Petani Terputus

Editor: Admin
Foto istimewa 

Halmahera Selatan, 2 April 2026 — Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dengan pusat sekitar 129 kilometer tenggara Bitung pada kedalaman 62 kilometer, Kamis (2/4/2026), turut dirasakan hingga sejumlah wilayah Maluku Utara. Getaran gempa dilaporkan terasa di Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Sofifi, Pulau Bacan, serta beberapa wilayah di Kabupaten Halmahera Selatan, termasuk Desa Bokimiake, Kecamatan Kayoa Barat.

Dampak gempa tersebut menyebabkan jembatan penghubung utama di Desa Bokimiake ambruk. Jembatan yang seluruhnya terbuat dari kayu dengan lantai papan itu mengalami kerusakan parah pada bagian gelagar tengah yang patah, sehingga badan jembatan melengkung dan nyaris terputus.

Jembatan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat, terutama puluhan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 54 Satu Atap Kabupaten Halmahera Selatan di Bokimiake, serta para petani yang setiap hari melintas menuju kebun di seberang sungai.

Pasca gempa, warga memilih tidak melintasi jembatan karena kondisi yang dinilai sangat membahayakan keselamatan. Kerusakan struktur membuat papan lantai bergeser dan sebagian rangka penyangga patah.

Akibatnya, aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat terancam terganggu. Para siswa kesulitan menuju sekolah, sementara petani tidak dapat mengakses lahan perkebunan yang berada di seberang sungai. Kondisi ini juga berdampak pada warga dari beberapa dusun tetangga yang bergantung pada jalur tersebut untuk beraktivitas sehari-hari.

Salah satu warga Desa Bokimiake, Muhlis Usman, meminta pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera mengambil langkah cepat untuk memperbaiki jembatan tersebut. Menurutnya, jembatan itu merupakan satu-satunya akses penghubung masyarakat.

“Kami meminta perhatian serius pemerintah daerah agar segera melakukan perbaikan. Jembatan ini akses utama masyarakat, termasuk anak-anak sekolah. Struktur kayu sangat rentan rusak, seharusnya dibangun dengan konstruksi beton agar lebih kuat dan menjamin keselamatan warga,” tegas Muhlis.

Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat, minimal dengan membangun jembatan sementara, sambil menyiapkan pembangunan permanen. Jika tidak segera ditangani, putusnya akses tersebut dikhawatirkan akan menghambat aktivitas pendidikan serta roda ekonomi masyarakat Desa Bokimiake dan wilayah sekitarnya. (Red/tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini