Tobelo: "To be love"

Editor: Admin
Foto istimewa 
Oleh: A. Boko
Pegiat Gusdurian
Mungkin ungkapan terkeren comika asal Maluku Utura, Ali Akbar: "Tobelo" dari kata pendeknya ialah "to be love" menjadi penyejuk hati. Kita tidak harus mengejar persamaan, karena yang sudah ada adalah cinta (perbedaan). Gus Baha "hidup itu sederhana, kalau kau tidak menemukan apa yang kamu cintai, maka cintai apa yang kamu temukan.
Intinya tidak semua hal di dunia mestinya "ideal" menurut fersi kita (klaim). Hal ini karena tiap individu atau kelompok bediri di atas perbedaan itu sendiri.Termasuk di Tobelo, Halmahera Utara. Perlu disadari bahwa kita punya sejarah kelam (1999-2000) yang merusak psikologis antarumat beragama hingga hari ini, mari "baku bae". Sebab setiap konflik pasti meninggalkan peribahasa "kalah jadi abu menang jadi arang".
Rasanya, menyatukan perbedaan ialah hal mustahil, nàmun "membersamai" perbedaàn jauh lebih penting. Tobelo, Halmàhera Utàra harus dibangun dengan cinta dan harus direstui. Siapa yang merestuinya? Semua etnis dan agama yang hidup berdampingan di sana, Tobelo, Halmahera Utara.
E Titaley (2022) ada tiga faktor meningkatnya konflik (kekerasan) dalam masyarakat; fanatisme agama, fragmentasi nilai-nilai budaya, dan kelompok orang yang meninggalkan komunitas karena konflik.
Penerimaan atas perbedaan etnis dan agama mencirikan pola hidup yang harmoni. Yudho Asmoro, tidak perlu kita kemudian mepersalahkan perbedaan termasuk jangan memaksa "kerberagaman" menuju "penyeragaman", Bhineka Tunggal Ika (Saf'i, 2010).
Adnan Mahmud (2016) tidak ada satu agama yang tidak mengajarkan penghormatan atas nilai-nilai "humanisme". Di Kristin, kita temukan kata familiar, hukum kasih.
Abdurrahman Wahid (2006), Umar Bin Khattab pernah berkata "tiada Islam tanpa komunitas, tiada komunitas tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan (La islama illa bi jama'ah wala jama'ata illa bi imarah wala imarata illa bi tha'ah).
Dalam The Teaching of The Buddha (2011), ada 10 perbuatan Buddha yang hebat, salah satunya "Sila".
Sila berarti menjaga tindakan tubuh dan lisan, memelihara perilaku moral yang baik. Seseorang yang mengamati moralitas menghindari melakukan tindakan jahat baik secara fisik ataupun secara lisan.
Harus diakui, masyarakat Tobelo-Galela yang berbeda agama di ikat dengan frasa lokal Hibua Lamo. Di samping itu, terdapat beragam entitas pendatang yang hidup berdampingan dalam payung moderasi.
Sikap antroposentris dan setriotip menjadi bahaya dan daya peledak bagi kerukunan. Kita tidak harus takut dengan bendera Israel, Palestin, dan diskusi buku, itu hanya sebila kain dan kertas yang pasti lapuk dan rusak.
Dengan demikian, nilai-nilai Hibua Lamo yang terdiri atas "O balihara" (pelihara), O odara (cinta), O Diai (perbaiki bersama) dan O Adili (keadilan untuk semua). Mesti di rawat dan bumikan di Halmàhera Utara...(*).
Share:
Komentar

Berita Terkini